Monday, February 14, 2005

Screening Log Column #6

Babblings:

Gw membaca salah satu artikel tentang otak. Dari situ, gw mengambil kesimpulan kalau cara berpikir gw itu sangat-sangat visual, non-linear, dan multi-purpose (terutama dalam hal 'tujuan') yang kesemuanya merupakan fungsi otak kanan (simptom yang paling sederhana, mana yang lebih mudah buatmu. Mengingat nama orang atau wajah? Kalau gw, jelas wajah. Gw sering ketemu teman yang gw bener-bener lupa namanya tapi ingat betul sama raut wajahnya. Dan lebih jauh lagi, gw bisa mengidentifikasi 4 dari 5 mahasiswa FISIP UI. Hah hah, gw melebih-lebihkan tentu saja). Dari artikel itu pula gw melihat bahwa si penulis artikel merekomendasikan untuk menjadi seorang seniman, pelukis (honest, i once had a hunch to bought myself a canvas and start painting anything that comes to mind, but it was so expensive i rather bought a paperback instead), atau musisi. Sedangkan seorang penulis, direkomendasikan untuk mereka yang lebih dominan otak kirinya.

Informasi ini gw simpan baik-baik. Dan lantas gw bandingkan dengan keadaan gw yang sesungguhnya. Selama ini, ide datang dan pergi secara visual di benak gw. Bahkan lewat mimpi yang selalu gw ingat setiap bangun tidur (bukan cuma satu, tapi sering kali dua mimpi gw di malam sebelumnya bisa gw ingat di pagi hari). Tapi ketika mencoba menterjemahkan informasi visual itu ke dalam bentuk verbal, gw seperti mendaki dinding batu dengan kemiringan sembilan puluh derajat setinggi ratusan meter tanpa bantuan apa pun. Sulit. Benar-benar sulit. Padahal sayang sekali jika ide-ide visual yang mampir di otak gw itu dilewatkan begitu saja, atau gw nikmati sendiri. But hell no! i'm going to keep writing until i received my very first declination note sent by the publisher.

Weekend U.S Box Office (Feb 11 - 13):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Hitch - US$ 45.3 mills - US$ 45.3 mills
2. - Boogeyman - US$ 10.8 mills - US$ 33.3 mills
3. - Are We There Yet? - US$ 8.5 mills - US$ 61.5 mills
4. - Million Dollar Baby - US$ 7.58 mills - US$ 45 mills
5. - Pooh's Heffalump Movie - US$ 6 mills - US$ 6 mills
6. - The Wedding Date - US$ 5.6 mills - 19.5 mills
7. - Hide and Seek - US$ 5.55 mills - 43.5 mills
8. - Sideways - US$ 4.75 mills - US$ 53 mills
9. - The Aviator - US$ 4.63 mills - US$ 82.2 mills
10. - Meet the Fockers - US$ 3.4 mills - US$ 269.9 mills

Will Smith meskipun memulai karir akting sebagai bintang utama sitkom "The Prince of Bel-Air" tidak pernah membintangi film feature bergenre komedi. "Prince of Summer" ini selalu membawa sukses yang menggiurkan bagi film-film yang dibintanginya karena memang selalu laris dan sukses. Sebut saja "ID-4", "I, Robot", atau "MIB". Pun begitu, film-film tersebut genrenya selalu fantasi menjurus ke aksi CGI. Hitch mungkin merupakan film komedi romantis pertamanya. And man how he'd succeeded at that. Hitch, yang mengisahkan kisah seorang konsultan percintaan (matchmaker) yang diperani oleh Will Smith, Eva Mendes dan disutradarai oleh Andy Tennant yang sukses membawa "Sweet Home Alabama" ternyata bisa merebut pencinta film di U.S sono dengan merajai box-office dengan perolehan 4 kali lipat dari saingan terdekatnya, thriller Boogeyman. Agaknya nama Will Smith memang masih menjadi jaminan. Film baru lainnya, Pooh's Heffalump Movie tidak akan gw bahas mendalam di sini. Toh, dia cuma another Winnie the Pooh's cartoon, yang mungkin hanya memuaskan penonton anak-anak atau hardcore fans dari Winnie the Pooh. And i was neither.

Later this week, we see Because of Winn-Dixie, Constantine, dan Son of the Mask. Dari forum-forum, gw bisa menyimpulkan penonton Indonesia really anticipating Constantine, sebuah adaptasi komik tentang seorang anti-hero, John Constantine yang diperanin oleh Keanu Reeves. Well, i didn't like Keanu Reeves at all. Tapi trailernya kelihatannya cukup menjanjikan. Film ini juga sudah masuk di Indonesia (http://www.21cineplex.com) meskipun tampaknya baru akan midnight pada tanggal 26 Februari nanti.

Tentu masih ingat sama The Mask, film konyol (yet another adaptation of comic) yang diperanin oleh Jim Carrey. Son of the Mask cukup punya kualifikasi untuk disebut sebagai sekuel-nya. Sesuai judulnya, The Mask diceritakan punya 'anak'. Bagaimana alur logisnya, gw sendiri pun masih meraba dalam gelap. Because of Winn-Dixie adalah satu lagi adaptasi dari cerita yang diangkat ke film. Dan itu melengkapi 100% film adaptasi yang akan dirilis minggu ini. Bercerita tentang persahabatan seorang gadis cilik dengan seekor anjing yang ia temukan terlantar di sebuah supermarket. Dari tema-nya tentu saja ini akan menjadi sebuah film keluarga yang bakal mengharu biru. Apalagi tokohnya seorang gadis cilik (7-10 yrs old) dan seekor binatang.

From the Screening Log:

Screening Log hanya melihat tiga film minggu ini meskipun ada libur selama lima hari. Assault on Precinct 13 versi asli. Sesuai kebiasaan, gw mencoba untuk menonton atau membaca karya asli dari sebuah film yang diangkat sebagai remake atau adaptasi darinya. Dan karena di tahun 2005 ini, film Assault on Precinct 13 di-remake, maka gw mencari dan kemudian menonton film aslinya. As expected, filmnya lame, tapi kasar. Austin Stoker sebagai tokoh utama anti-hero di film ini tampil luar biasa. Dan suasananya, feelsnya juga dapet. Mencekam. Walaupun adegan penyerbuannya sangat bapuk (wajar mengingat ini film dibuat tahun 70-an), satu hal yang membuat gw kagum adalah adegan aksinya yang kasar tanpa koreografi. Tidak wah, bahkan mungkin bisa ditertawakan tapi tetap memberikan nuansa indah yang unik. Body count: 6 Police Officers, 1 Telephone Service-Man, 2 Convicts, 1 Civillian, 40-50 Thugs.

Jackie Brown. Gw pernah menyinggung film ini sebelumnya. Dan memang, ini adalah kali ketiga gw nonton film ini. Filmnya lambat, dan lama (dua setengah jam) tapi tidak membuat gw mengantuk. Dialog-dialog khas Tarantino, karakter-karakter yang lovable (si gila Samuel L.Jackson, si misterius Robert Forster, si dungu Robert De Niro, si penggoda Bridget Fonda, si ambisius Michael Keaton, dan tentu saja si cerdas Pam Grier) dimainkan tanpa cela oleh para aktor-aktrisnya. Dibuka dengan dialog tidak penting (sekali lagi, ciri khas Tarantino) tentang macam-macam senjata oleh Samuel L.Jackson, yang paling menarik dari film ini adalah tidak ada karakter yang under-developed. Semuanya (bahkan Bridget Fonda yang nyaris sepanjang film memakai bikini) di bangun dengan serius oleh QT. Dan ini yang membuat film ini sangat-sangat menarik dan tidak membosankan buat gw, and clearly it was QT's best shot meskipun tidak sukses. Body count: 4.

Shark Tale. Semenjak pertama kali film ini keluar, gw tidak mengharapkan banyak dari film ini. Pertama, desain karakter-nya yang sama sekali tidak lucu dan kedua, review-review yang tidak sanggup mengangkat popularitas film ini, dan ketiga, Finding Nemo. Ya, karena dihajar cukup telak oleh Finding Nemo dan sama-sama membawa dunia bawah laut. Ekspetasi gw menjadi kenyataan, selain parodi dari film-film dewasa yang sudah berumur (gw yakin kalian juta sedikit mengetahuinya :)) seperti Scarface, Appocalypse Now, Godfather, The Untouchables, Jaws, Seabiscuit, sampai Titanic (lukisan Kate Winslet), nyaris tidak ada yang menarik dari film ini. Bahkan cameo-cameo dan soundtrack yang catchy tidak sanggup melegakan kepenatan gw akibat terlalu bosan sama film ini. Penyelesaian masalahnya terlalu sederhana. Simple talks, (bla bla bla and everybody's happy) dan tema yang sedikit 'dewasa', film ini malah jatuh di kebingungan antara menjadi film yang menarik penonton dewasa (which is not) atau film untuk anak-anak (which is definitely not). Gw menilai, bisa atau tidaknya seseorang menikmati film ini diukur dengan bisa atau tidaknya mereka menemukan referensi terhadap film-film klasik dewasa yang diparodiin di film ini.

Friday, February 11, 2005

Clint Eastwood

Quote: "I bow down to you. You are a talent beyond compare. If I'm half the person you are and half the talent you are when I'm 74, I will know that I've accomplished something great." -- Hillary Swank ketika menerima SAG Award kategori Best Actress kepada rekan mainnya dan sutradara dalam film "Million Dollar Baby" (6 Februari 2005).

Komentar bombatis itu datang dari seorang Hillary Swank. Aktris yang kemampuan berakting dan totalitasnya dalam seni peran telah membuahkan penghargaan SAG (Actors Guild) sebagai aktris terbaik di tahun 2004 lewat perannya sebagai seorang wanita berotot di "Million Dollar Baby". Penghargaan ini juga melengkapi penghargaan Hillary Swank setelah sebelumnya ia mendapatkan Golden Globe juga lewat film yang sama dan menjadikannya sebagai kandidat serius untuk merebut piala Oscar untuk aktris terbaik akhir Februari ini.

Jadi tentu saja komentar bombatis yang datang dari seorang aktris yang sudah diakui terhadap rekan kerjanya tentu bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng.

Saya mengenal nama Clint Eastwood nyaris bersamaan dengan waktu saya berkenalan dengan film yang berarti sekitar tahun 1988 - 1989. Waktu itu saya sebagai seorang newbie di dunia film langsung bisa mengasosiasikan nama Clint Eastwood lewat peran-perannya di film Western. Meskipun baru beberapa tahun kemudian saya berkesempatan untuk menonton "Unforgiven" (1992), yang memberinya penghargaan Oscar sebagai Best Director, dan baru di tahun 2004 saya menonton film western pertama yang mengangkatnya ("A Fistful of Dollar"), nama Clint Eastwood sudah terlanjur melekat dengan topi koboi, bot bergerinda, dan revolver enam peluru.

Selanjutnya, tentu saja "Dirty Harry". Film yang buat saya waktu itu sangat fenomenal karena penggunaan profanity-nya, dan kekerasan dari seorang penegak hukum. Oh ya, saya memang sudah diijinkan untuk menonton film apa saja, dan bangun sampai pukul berapapun meskipun saya masih SD oleh orang tua saya (i love you, guys) dan itu tentu saja bertanggung jawab untuk membentuk diri saya yang sekarang ini (coffee-addict, movie-lovers, and insomnia).

Sebenarnya saya tidak pernah menganggap Clint Eastwood sebagai aktor yang bagus. Betul kalau dia memang punya evil grin yang meyakinkan, Dirty Harry pun bisa melekat dengan sempurna sampai saya tidak bisa mengasosiasikan orang lain sebagai Inspektur Harry Callahan. Dan sampai film keempatnya di tahun 80-an, "Sudden Impact", Dirty Harry telah berhasil membuat saya memimpikan bagaimana rasanya meledakkan Magnum ke kepala orang (ah well, when we're young, we wanted everything, rite?, after all, i'm only 9 - 10 years old at the time). Pada intinya, sampai sekarang jika ada yang menyebut nama "Clint Eastwood", saya selalu teringat film-filmnya Sergio Leone, dan Dirty Harry, dan selalu bisa membayangkan Clint Eastwood sebagai koboi dengan pistol terhunus, rokok di ujung mulutnya, dan disampingnya, Clint Eastwood sebagai seorang inspektur, dengan jas warna abu-abu dan celana yang senada, evil grin, dan Magnum terhunus. Dan sampai tahun 2003, hanya itu yang bisa saya bayangkan tentang Clint Eastwood.

Di tahun 2003, saya mulai serius menyukai film. Saya mulai memilih-milih film bukan lagi berdasarkan genre ataupun aktor-aktris-nya. Saya mulai memilih film berdasarkan nama sutradara dan screen-writer-nya. Maka saya heran begitu Mystic River, film yang disutradarai oleh Clint Eastwood mendapat review yang bagus dan bahkan masuk nominasi Oscar di tahun itu.

Saya penasaran. Akhirnya beberapa bulan kemudian saya berkesempatan untuk menonton film itu. Dan ya, untuk pertama kalinya saya melihat Clint Eastwood bukan sebagai boneka Sergio Leone, dan bukan pula sebagai Inspektur Harry Callahan. Saya langsung suka sama Mystic River. Kedalaman ceritanya, twist-nya, karakterisasi pemain2nya. Tapi terlebih, karena memang waktu nonton pertama kali saya ingin melihat Clint Eastwood, saya merasakan 'shot-shot' misteriusnya yang membawa Mystic dari Mystic River itu sendiri. Saya bahkan tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Tapi terutama saya suka waktu Sean Penn berteriak dikerubuti polisi, juga adegan karnaval di terakhir film, dan tentu saja jalan tempat rumah karakter Sean Penn berada. It was magical and mysterious in some kind of weird way. Sayangya, waktu itu Clint harus mengalah sama PJ yang menyelesaikan trilogi The Lord of the Rings-nya di tahun itu.

Lalu kita sampai di Million Dollar Baby. O yea, dengan nuansa misterius yang sama, saya juga langsung jatuh cinta sama Hill.. eh, filmnya. Terlebih penampilan Hillary Swank yang serius, all-out, sampai dari aksen cara ngomongnya saja kita sudah bisa percaya banget kalau Fitzgerald (tokoh yang diperanin olehnya) tidak punya keinginan apa-apa selain menjadi petinju dan memiliki tingkat intelejensi yang rata-rata. Saya benar-benar angkat jari untuk Hillary Swank di film ini. Bahkan di sepertiga film terakhir kita bisa benar-benar tertarik ke karakter Fitzgerald ini, bisa memposisikan di posisinya yang menghadapi redup terakhir dari cahaya harapannya, dari hidupnya. Tapi tentu saja, tanpa Clint Eastwood, saya rasa akan beda rasa misteriusnya, akan beda cara kita menangkap kegigihan dan kegetiran Fitzgerald yang ditampilkan oleh Hillary Swank di film ini. Wajar kalau nanti (February 27th) dia diganjar Oscar untuk sutradara terbaik. Tapi tetap saja, saya masih tetap ingin Martin Scorcese yang membawa pulang patung emas itu.

All in All, Clint Eastwood, dengan 50 tahun pengalaman di dunia film tetap menjadi salah satu legenda film. But i still could see him as one of Sergio Leone's puppet or Dirty Harry.

Monday, February 07, 2005

Screening Log Column #5

Babblings:

Writing is a damn full time job. Tidak seperti menulis jurnal semacam ini yang bisa gw tulis sambil lalu, nulis fiksi bener-bener butuh konsentrasi dan suasana yang tepat dan buat gw, suasana yang tepat adalah suasana yang tenang, tanpa ada suara apa pun selain inspirasi gw yang membalik-balik cerita di benak gw. If you see me now, gw lebih sering menutup pintu kamar gw, bahkan menguncinya. Padahal sebelumnya, jam tiga pagi pun pintu kamar gw selalu terbuka untuk menerima 'tamu'.

So, chapter one is up.
Chapter 01.

Mind you, chapter satu di atas inspirasinya baru datang hari Sabtu kemaren. The original chapter one was pushed back to chapter three after I added two chapters as a prelude. Gw udah dapet topik permasalahannya, karakter-karakter protagonisnya. Cuman masalahnya gw masih belum bisa menentukan bagaimana karakter-karakter protagonisnya menyelesaikan masalahnya. Ah, it will kicked in sometime soon, .. i hope ..

Weekend U.S Box Office (Feb 4 - 6):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Boogeyman - US$ 19.5 mills - US$ 19.5 mills
2. - The Wedding Date - US$ 11 mills - US$ 11 mills
3. - Are We There Yet? - US$ 10.4 mils - US$ 51.05 mills
4. - Hide and Seek - US$ 8.9 mills - US$ 35.7 mills
5. - Million Dollar Baby - US$ 8.77 mills - US$ 34.6 mills
6. - The Aviator - US$ 5.44 mills - US$ 75.9 mills
7. - Meet the Fockers - US$ 5 mills - US$ 265.3 mills
8. - Sideways - US$ 4.8 mills - US$ 46.8 mills
9. - Racing Stripes - US$ 4.42 mills - US$ 40.5 mills
10. - Coach Carter - US$ 4 mills - US$ 59.5 mills

Minggu ini, Amerika disibukkan dengan Superbowl. Tapi, thriller 7 juta dolar Boogeyman berhasil meraih 19 juta dolar dari opening weekend-nya. Bersama film baru lainnya, The Wedding Date yang terang-terang ditujukan ke penonton cewe berhasil merajai dua besar box-office minggu ini. Jawara minggu lalu, Hide and Seek malah turun ke peringkat ke-4.

Later this week, two movies shall be up. Hitch, featuring Will Smith as a matchmaker. Dan satu lagi Pooh's Heffalump Movie. Nothing interesting in the movie except that every citizen of Hundred Acre Wood participating in it. Ada satu lagi film yang sudah dinikmati di Indonesia tapi dibuka secara limited di U.S sono, spin-off dari Jane Austen's Pride and Prejudice, Bride and Prejudice. Tapi karena kolom ini spesifik untuk film-film rilis wide, I shall let it slide for another screening session.

From the Screening Log:

Minggu Oscar. Oh yeah, Screening Log memulai minggu ini dengan film thriller standar, The Forgotten . Tentang seorang ibu (Julianne Moore) yang percaya bahwa anaknya masih hidup sementara orang-orang disekitarnya tidak ada yang ingat bahwa si ibu ini pernah punya anak. Instingnya sebagai ibu tidak mau menyerah begitu saja dan ia mencari kebenaran tentang anaknya sampai ketika ia dihadapkan pada kenyataan yang mengejutkan. Julianne Moore tidak cukup menarik dan tidak cukup meyakinkan sebagai seorang ibu yang percaya bahwa anaknya masih hidup. Dan mungkin itu yang membuat film ini tidak sebagus dan semenarik yang disodorkan oleh premisenya. Kenyataannya juga terlalu sci-fi untuk bisa dijelaskan dalam waktu 10 menit.

Empat film berikutnya, Screening Log menyaksikan film-film yang punya nominasi di Oscar. Dimulai dari Ray . Film semi biografi tentang Ray Charles Robinson ini segera menjadi film favorit gw. Dengan musik R&B yang kental (i love R&Bs), film yang panjangnya nyaris dua setengah jam ini menarik untuk diikuti. Terlepas dari kecenderungan screen-writer-nya untuk menulis film ini dengan penyesuaian terhadap diskografi-nya Ray, sejak awal konsentrasi gw memang sudah terpaku pada Jamie Foxx. After all, he had a Golden Globe award on this movie and a serious contender for the Academy next February 27th. And he delivers.. o yea, he delivers. Potret-nya sebagai seorang jenius musik dengan segala keterbatasan fisiknya sungguh menarik dan meyakinkan untuk disimak. Terlebih lagi, tidak seperti orang-orang buta yang dipotretkan oleh sinetron-sinetron Indonesia, Ray Charles sama sekali bukan orang suci. Di satu titik, dia bahkan mengolok-olok Tuhan. Jamie Foxx is definitely a center of attention here. Tapi, tak urung gw juga suka penampilan nyokap-nya Ray kecil - walaupun ia tampil di beberapa adegan kecil - yang bener-bener convincing dan menyedihkan. If you love good drama and good R&B's, watch it.

Next, Being Julia, featuring Annette Bening sebagai nominasi Oscar untuk aktris terbaik favorit. Bersetting di London tahun 1930-an, Julia adalah aktris teater yang paling populer saat itu. Filmnya sendiri jelas dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, 50 menit pertama bener-bener boring luar biasa. Menceritakan kisah Julia yang merasa bosan dengan kehidupannya sebagai aktris teater dan memutuskan untuk berhenti saja sampai ia berkenalan dengan seorang pemuda Amerika (a gold-digger, if you familliar with the term) dan dari dia ia menemukan seks dan inspirasi yang membuatnya memberikan penampilan terbaik di teater dan jatuh cinta kembali kepada teater. Suaminya, seorang produser teater mengetahui affair tersebut tapi ia tidak peduli selama istrinya bisa tetap menampilkan penampilan terbaik di teater. Kalau tidak karena Annette Benning yang so gay and so fun to watch, gw udah pasti tertidur karena bosan. Tapi, bagian keduanya, 45 menit terakhir, was sooo powerful. Ketika pemuda Amerika selingkuhan Julia tidak lagi tertarik kepada Julia dan justru malah merekomednasikan aktris muda kekasihnya untuk bermain di drama terbaru Julia. Di luar dugaan, Julia merekomendasikan aktris muda tersebut ke suaminya - aktris muda yang ini ternyata juga berselingkuh dengan suaminya - untuk dimasukkan ke drama terbaru mereka. Dan kemudian, Julia membalaskan dendamya kepada semua orang di stage terakhir, pementasan terakhir dari Being Julia. Annette Bening has all the spotlight in the movie.

After that, Finding Neverland . Drama romantis, sedikit fantastis tentang J.M Barrie, the man behing Peter Pan. J.M Barrie (Jhonny Depp) adalah seorang penulis teater (gosh.. another theatre?) yang sedang berada di titik terendah karirnya. Sampai ketika ia bertemu dengan seorang janda, Sylvia Davies (Kate Winslet) dengan keempat anak laki-lakinya. Segera Barrie menjadi paman favorit dari keempat anak tadi, dan sepanjang petualangan mereka, J.M Barrie mendapat inspirasi untuk kemudian ia tuangkan di sebuah teater paling terkenal dari Barrie, "Peter Pan". Ceritanya indah, dengan perpaduan antara fiksi (Neverland) dan realita yang walaupun sedikit tersendat tetap menarik. Jhonny Depp tidak seflamboyan ketika di Pirates tapi tetap memberikan energi yang luar biasa dari penampilannya. Dan Kate Winslet tampil kuat seperti biasanya (she's a good actress, really good). Walaupun fakta-fakta yang merupakan aib bagi Barrie disembunyikan (isunya, Barrie adalah seorang pedofil), "Finding Neverland" tampil sebagai cerita yang "safe", nggak berlebihan, dan cukup punya emosi antara drama, fantasi, sampai tragedi. Tidak ada yang kurang di film ini, meskipun juga tidak ada yang lebih dari film ini.

The last one, Million Dollar Baby . Film ini nyaris sama seperti Rocky, jika tidak ada twist di menit ke-93. Seperti Rocky, Million Dollar Baby menitik beratkan pada Maggie Fitzgerald (Hillary Swank) seorang wanita berumur 30 tahun-an yang ingin bertinju. Dia menginginkan Frankie (Clint Eastwood) untuk menjadi manajer dan pelatihnya. Frankie sendiri adalah seorang manajer yang 'safe'. Dia terlalu concern kepada petinjunya sehingga jarang mengambil resiko untuk mengadu petinjunya dengan juara dunia karena ia khawatir akan berakibat buruk untuk petinjunya. Hal ini membuat ia ditinggalkan oleh petinju-petinju asuhannya yang justru menjadi juara dunia. Pada awalnya, Frankie tidak mau melatih Maggie. "I dont train girls". Tapi, dedikasi Maggie lama-lama menggerakkan Frankie dan kemudian jadilah Maggie seorang petinju wanita yang ganas. I leave the twist for you to enjoy. Filmnya lumayan bagus, lepas dari fakta bahwa "i'm a sucker for a sport movie", kalau dibandingin sama Rocky (yang menang Oscar di tahun 1970-an), Million Dollar Baby buat gw jauh lebih gelap, lebih kelam dan lebih bagus tentu.

Sebelumnya, gw menjagokan Hillary Swank untuk meraih Oscar Aktris Utama terbaik. Tapi setelah melihat Being Julia dan Million Dollar Baby, gw sekarang menjagokan Annette Bening. Alasannya, jika di Million Dollar Baby, gw lebih tertarik kepada bagaimana cerita membawa karakter Hillary Swank, di Being Julia gw lebih tertarik kepada bagaiaman karakter Annette Bening membawa cerita. Dari situ sendiri sudah bisa disimpulkan siapa yang menjadi center-of-attention dan siapa yang lebih bisa membawakan tanggung-jawab untuk mengantarkan cerita. Lagipula di Million Dollar Baby, cerita tidak melulu berkonsentrasi pada Maggie. Ada banyak side-story, cerita si tua Morgan Freeman, cerita si Frankie dengan putrinya, cerita si Maggie dengan keluarganya, dan cerita tentang seorang petinju bernama Danger. Intinya Hillary Swank tidak melulu mendapat spotlight di Million Dollar Baby. Beda sama Annette Bening di Being Julia.

So, that's a wrap. Tinggal nonton The Aviator sama Sideways.

Monday, January 31, 2005

Screening Log Column #4

Babblings:

Gw terperangkap sakit seminggu yang lalu, sehingga edisi Column #3 tidak sepenuhnya lengkap, lebih jauh lagi dari hari Selasa sampai Jum'at gw ga nonton film sama sekali. Tapi, hari Jum'at, tepat jam empat sore, gw dapet ide dan mulai menulis apa yang menjadi - mudah-mudahan - cerita pertama gw. I've finished one chapter with 7 pages long on each, and currently working on the second. Gw sendiri ga tau ceritanya bakalan seperti apa meskipun gw udah bisa kebayang beberapa possible endings. Sebenernya gw pengin ngepost chapter pertama di sini. But then again, mungkin nanti, gw ga mau nantinya tiba-tiba berhenti di tengah jalan seperti kebanyakan cerita yang gw mulai tulis. Mungkin nanti, setelah gw masuk chapter 6 atau 7. Okay, let's kick off this edition of Column.

Weekend U.S Box Office (Jan 28 - 30):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Hide and Seek - US$ 22 mills - US$ 22 mills
2. - Are We There Yet? - US$ 17 mills - US$ 39.1 mills
3. - Million Dollar Baby - US$ 11.8 mills - US$ 21.1 mills
4. - Coach Carter - US$ 8 mills - US$ 53.5 mills
5. - Meet the Fockers - US$ 7.6 mills - US$ 257.9 mills
6. - The Aviator - US$ 7.5 mills - US$ 68.1 mills
7. - Sideways - US$ 6.3 mills - US$ 40 mills
8. - In Good Company - US$ 6.2 mills - US$ 35.9 mills
9. - Racing Stripes - US$ 6 mills - US$ 34.5 mills
10. - Assault on Precinct 13 - US$ 4.2 mills - US$ 14.7 mills

Yes, for once I was right. Minggu lalu gw memprediksi Hide and Seek bakalan bisa mencapai puncak. Dan ya, dengan aktor sekualitas Robert De Niro dan Dakota Fanning, sulit rasanya untuk tidak menjadi yang terbaik di minggu ini. Buat Robert De Niro, ini merupakan 'comeback'-nya ke box-office setelah minggu lalu, Meet the Fockers yang cukup digdaya selama tiga minggu berturut-turut digusur sama Are We There Yet?-nya Ice Cube yang sekarang ada di posisi ke-2. What a 'comeback' I say, cuman butuh jeda seminggu buatnya untuk kembali ke posisi ke-1 box office.

Film baru lain yang juga dirilis minggu ini malah ndak ketahuan di 10 besar. Juga koheren dengan prediksi gw minggu lalu. Uwe Boll masih ga kapok dengan jebloknya House of the Dead. Besutannya yang terbaru, Alone in the Dark yang juga jadwal rilis wide tanggal 28 Januari sama sekali ndak kelihatan batang hidungnya di top 12. Semakin kasian melihat Christian Slater yang supposedly menggunakan film ini sebagai titik baliknya sebagai aktor. Dan seakan tidak cukup, Uwe Boll juga tengah mempersiapkan film berikutnya yang juga diadaptasi dari game, Bloodrayne dibintangi oleh si seksi Kristianna Lokke yang maen di T3 sebagai musuhnya Arnold. Ck.. ck.. tak cukupkah para produser itu menutup mata mereka dan menyadari bahwa si Uwe Boll tidak lebih dari pembuat film yang sangat sangat buruk. Hell, maybe i can even do better.

Another expected expectation came to realization, ketika pengumuman nominasi Oscar membantu film-film yang dinominasiin menarik penonton lebih banyak. Million Dollar Baby, Sideways dan The Aviator masing-masing naik posisinya di 10 besar Box-office. Way to go!.

Later this week, pecinta film disuguhi dua film yang bergenre tolak belakang. Boogeyman, horor, dan The Wedding Date, komedi romantis. Tak banyak yang bisa gue ceritain soal kedua film ini. Hell, bahkan nama-nama aktris-nya (kecuali Lucy Lawless yang punya peran minor di Boogeyman) dan sutradara-nya ndak familiar. Jelas dong, kalo gw ragu akan kiprah mereka di box-office minggu ini. Itu untuk yang rilis wide. Yang rilis limited diantaranya ada Nobody Knows, film Jepang yang pengen gw cari sebenernya soalnya banyak yang bilang bagus. Bahkan diputer di Jiffest segala kemaren. Nobody Knows bercerita soal empat bersaudara yang tiba-tiba ditinggalin ibunya sementara selama ini ibunya berusaha agar empat orang ini tidak 'exist'. Jadilah mereka berjuang sendiri untuk hidup. Hmm.. kelam, pasti kelam.

Screening Log Movie of the Week:

Dulu, pas gw masuk SMA kelas 1, gw bisa dibilang sebagai orang pelit. Uang saku gw sering habis untuk maen band, beli kaset, atau nyewa Laser Disc. Pas waktu itu (sebelum satu-satunya penyewaan Laser Disc di kota gw gulung tikar), gw sempet minjem Heat dan Se7en yang keduanya lantas menjadi film-film yang gw sukai. Heat in particular, sangat memorable buat gw. Dibintangi oleh aktor-aktor favorit gw saat itu, is and still now, Robert De Niro dan Al Pacino, ada tiga adegan yang selalu gw ingat dan membuat gw menganggap Heat adalah salah satu film heist terbaik. (1). Adegan perampokan di awal film, adegan ini menjadi pembuka yang mantap dan menjanjikan bahwa film ini akan jadi film aksi yang bagus, meskipun kenyataannya berkata lain. (2). Adegan kopi di tengah film, adegan ini adalah "clash-of-characters" yang memorable di mana masing-masing pihak (De Niro dan Pacino) yang bermusuhan mengungkapkan filosofi dan keinginan mereka dalam melaksanakan tugasnya. Gw inget, gw dag-dig-dug banget pas di adegan itu, dah beberapa dialognya yang berikutnya akan menimbulkan kontradiktif karakter di antara keduanya nanti. Dan (3) adegan terakhir. Jelas. Bisa dianggap sebagai klimaks, dari sebuah drama yang bagus, atau anti-klimaks dari sebuah aksi yang membosankan, tergantung bagaimana penonton melihat film ini. Gw yang menganggap bahwa ini adalah film drama yang bagus, tentu saja terkesima dengan adegan terakhirnya. Kesedihan Al Pacino yang kehilangan musuh besarnya, yang sebenernya meringankan pekerjaannya tapi ironisnya juga seperti kehilangan sahabat, bahkan saudara. Kentara banget dengan karakter-nya yang ditekankan oleh Michael Mann (juga menyutradarai Collateral) sebagai seorang polisi yang work-aholic dan kesepian.

From the Screening Log:

Hereby, i declare it as the miserable week. Dimulai dengan bagus oleh film-nya Martin Scorcese, Goodfellas (1990), minggu ini ditutup dengan kekecewaan. Goodfellas mungkin buat gw adalah film gangster terbaik sejak Godfather part. II berfokus pada seorang anak muda yang sedari kecil sudah ingin jadi mafia sampai mencapai kesuksesan dan lantas jatuh berantakan (Ray Liotta), Goodfellas menunjukkan kemampuan Scorcese dalam menyajikan visual yang stunning. One memorable of this film was the very long shot yang mengikuti Jimmy (Robert De Niro) masuk bar dan menyalami semua orang yang ada di dalam bar itu. A Very Long Shot (maybe as long as 1 minute), with no cuts in the middle. Spesial kredit untuk Danny De Vito yang kocak sekaligus sangar.

Kontras dengan Goodfellas, Catwoman boleh gw bilang nyaris ndak ada shot yang lebih dari satu detik. Film ini bahkan bisa gw bilang bukan motion-picture atau gambar bergerak, tapi malah lebih kaya still photograph cycled in a very fast speed. Pusing. Kualitas akting-nya? jangan tanya deh. Benjamin Bratt, entah canggung gara-gara Halle Berry atau ga bisa akting, atau dua-duanya tidak kelihatan seperti aktor. Sharon Stone juga tampil flat. Maunya jadi penjahat yang licik dan menakutkan tapi malah jadi lucu. Halle Berry? ummm, her *meow* at some point really really annoys me. But on top of it all, gw paling gedeg sama pengambilan gambarnya. Switching like crazy. Pitof, nama sutradaranya harus ganti nama untuk proyek selanjutnya. Jangan sampai kaya Uwe Boll yang udah gw cap sebagai sutradara yang tidak layak.

Hari Sabtu, temen-temen gw dateng ke kos, bersama kita nonton tiga film berturut-turut (o yea, three!), Kung Fu Hustle, One Missed Call dan The Grudge. Kung Fu Hustle, film barunya Stephen Chow (disutradarai olehnya) mengecewakan buat gw. Tidak sekonyol dan se-fun Shaolin Soccer, gw juga tiba-tiba merasa bosan dengan gaya gambarnya Stephen Chow di setengah akhir, untungnya Beast muncul, jadinya agak-agak berkurang bosan gw. One Missed Call, film horor Jepang besutan Takashi Miike. Gw beli film ini karena Takashi Miike, dia yang bikin film-film dengan tema aneh yang biasanya melibatkan kekerasan kaya Ichi The Killer, Audition, dan Visitor Q (gw punya tiga-tiganya), tapi gw bosan dengan One Missed Call. Tidak ada kematian yang menakjubkan, tidak ada penyiksaan, tidak ada mutilasi, hanya hantu penasaran (ya, ya, dengan rambut menggantung, dan mata membelalak, i've seen it soooo many times) dan ending yang ga jelas. Flat. The Grudge, juga tidak menjanjikan apa-apa, hanya remake shot per shot dari serial aslinya, gw lebih bisa menikmati versi aslinya. Selain itu tidak ada yang lebih menakutkan dari The Grudge yang bisa dinikmati. Orang2 Amerika jelas suka The Grudge karena mereka tidak pernah nonton Ju-On yang asli.

The Stepford Wives. Honest, i was enjoying this movie. Setelah dihajar berturut-turut oleh film-film yang membosankan, The Stepford Wives ternyata cukup ampuh buat jadi Redemption. Nicole Kidman tampil seperti biasanya, sedikit berlebihan, with that round face of her, which she used to its extreme measurement in the movie, was likeable at best, but absolutely not in one of her best performances. The Stepford Wives, however, mampu mengantarkan ke-satir-an dan isu feminisme. Gw sendiri sebagai cowok, bahkan sempat simpati kepada para istri dan despised the husbands. And all the over-the-top performances was actually adds the fun. All in all, The Stepford Wives was a successful comedy. And i love it.

Sore dewa, that's a wrap for this edition.

Friday, January 28, 2005

Oscar Nominations

Finally, the nominations announced. Berikut nominasinya, walau hanya beberapa yang gw anggap interest terbaik.

Best Picture
The Aviator
Finding Neverland
Million Dollar Baby
Ray
Sideways

Actor In A Leading Role
Don Cheadle, Hotel Rwanda
Johnny Depp, Finding Neverland
Leonardo DiCaprio, The Aviator
Clint Eastwood, Million Dollar Baby
Jamie Foxx, Ray

Actress In A Leading Role
Annette Bening, Being Julia
Catalina Sandino Moreno, Maria Full of Grace
Imelda Staunton, Vera Drake
Hilary Swank, Million Dollar Baby
Kate Winslet, Eternal Sunshine of the Spotless Mind

Actor In A Supporting Role
Alan Alda, The Aviator
Thomas Haden Church, Sideways
Jamie Foxx, Collateral
Morgan Freeman, Million Dollar Baby
Clive Owen, Closer

Actress In A Supporting Role
Cate Blanchett, The Aviator
Laura Linney, Kinsey
Virginia Madsen, Sideways
Sophie Okonedo, Hotel Rwanda
Natalie Portman, Closer

Directing
Martin Scorsese, The Aviator
Clint Eastwood, Million Dollar Baby
Taylor Hackford, Ray
Alexander Payne, Sideways
Mike Leigh, Vera Drake

Lima tahun terakhir kita menyaksikan perebutan Best Picture Oscar secara 'biasa'. Dalam artian pemenangnya sudah bisa ditentukan jauh-jauh hari. Tahun lalu, siapa sih yang ngejagoin "The Lord of the Rings: The Return of the King"?. Dua tahun lalu, meskipun banyak yang ndak setuju, siapa pula yang tidak menjagoin "Chicago"? soalnya sudah nyaris udah jadi rahasia publik kalau film musikal selalu jadi favorit. Say, "Moulin Rouge", atau "The Sound of Music", atau "Gigi". Tahun ini, mungkin sejak 1999 ada perlombaan yang cukup ketat. Di tahun 1999, gw masih ingat menjadi pembenci Gwyneth Paltrow - yang juga menang Best Actress - ketika film yang dibintanginya, "Shakespeare In Love" mendapat Oscar Best Picture mengalahkan film-film macam, "Saving Private Ryan" dan "Shawshank Redemption". Perlu diketahui, "Shawshank Redemption" juga adalah salah satu dari sepuluh besar film terbaik sepanjang masa buat gw.

Tahun ini, "The Aviator" meskipun menang Golden Globe perlu mewaspadai "Sideways" yang juga menang Golden Globe untuk komedi. Kerugiannya, cuma sembilan film komedi yang berhasil memboyong Oscar sejak tahun 1934. Dan ditambah pula "The Aviator" adalah satu-satunya film epik tahun ini yang masuk nominasi. Dan Film Epik selalu jadi favorit. "Lord of the Rings"? anyone? nod. nod. Pasar taruhan di London - yang selalu mempertaruhkan hampir segalanya - juga menjagokan "The Aviator".

Untuk aktor terbaik, gw rasa Jamie Foxx bakalan out-perform Leonardo DiCaprio meskipun keduanya menang Golden Globe untuk drama dan komedi, respectively. Out of my respect to DiCaprio, i personally thought that he's no better than a child actor. Therefore, nowhere near as good as Foxx.

Aktris terbaik, Hillary Swank. Gw rasa hampir pasti. Tahun lalu, Charlize Theron menang lewat "Monster" lewat performanya yang tidak feminin. Tahun ini, gw rasa Hillary Swank (yang jadi petinju di "Million Dollar Baby" bakal mengikuti jejaknya dan mendapat pengakuan yang sama seperti yang didapat Theron tahun lalu). Dan yes, Kate Winslet masuk nominasi best actress pula lewat my favourite film of the year 2004 thus far, "Eternal Sunshine of the Spotless Mind". Pasar taruhan London, however menjagokan Annette Benning.

Untuk supporting role Actors, meskipun Jamie Foxx juga dinominasiin buat jadi pemenang lewat "Collateral", opini publik ditambah penghargaan Golden Globe gw rasa membuat Clive Owen ("Closer") bisa pulang dengan Oscar di tangan. Gw sendiri belum nonton, jadi ndak bisa komen macem-macem. Untuk Actress, gw rasa tak perlu diperdebatkan lagi. Satu-satunya aktris favorit gw, yang gw suka karena kualitas aktingnya bukan karena kualitas fisik atau putusnya saraf malu mereka. Yes, Cate Blanchett. Natalie Portman memang menang Golden Globe dan tampil berani di "Closer". Tapi, gw ga rela kalo aktris favorit gw, Cate Blanchett dilangkahi untuk ketiga kalinya di ajang ini (that son-of-a-**** Gwyneth Paltrow took her Oscar back in 1999).

Best Director. Jelas Martin Scorcese. Mungkin sebagai sutradara pemegang rekor sebagai sutradara yang selalu diremehkan di ajang Oscar. Tahun 1974 "Mean Street" tidak dapat nominasi sama sekali. Tahun 1976, "Taxi Driver" cuma nominasi, kalah sama "Rocky". Tahun 1980, "Raging Bull" (belum nonton) dapat nominasi best picture dan best director tapi kalah sama Robert Redford dan "Ordinary People". 1988, "The Last Temptation of Christ" (belum dan ndak mau nonton) kalah sama Barry Levinson, "Rain Man" yang emang bagus. Tahun 1990, "Goodfellas" (buat gw, film mafia terbaik setelah "Godfather part.II") nominasi best picture dan best director tapi kalah sama Kevin Costner dan "Dances with Wolves". Dan tahun 2003, film terbaik buat gw di sepanjang tahun 2002 "Gangs of New York" dapet nominasi best picture dan best director tapi kalah oleh Roman Polanski dari "The Pianist" yang gw ga tertarik buat tonton dan "Chicago". Gw rasa, dan kalau gw jadi orang yang mengontrol penghargaan Academy, gw bakal memerintahkan supaya Martin Scorcese menang Oscar untuk Best Director.

Penyerahan nominasi diberikan pada tanggal 27 Februari.