Special Edition: Or How I Tried to Redeem Myself By Writing an Excuse Instead of Writing a Full Article
Okay, here's the thing.. last five days.. i've been home. Got many things accomplished, even though that i had to bid a short goodbye -- which was very unpleasant -- to things i loved in Depok, my PlayStation2 unit, my DVD collections, and my ever faithful WorkStation, Musang.
However, there were three of the important things that i got accomplished during my relatively short trip home. And they were: 1). Renewing my mibun shomeisho (ID card, or KTP). 2). Renewing my unten menkyoujou (Driving License, or SIM) and 3). I bought a motor-cycle. Yes, i've bought a motor-cycle even though that it won't be available here until next month.
Actually there was also one very important thing that i got accomplished and previously has been on my top of the agenda. I can't tell you anything about it though, but i assured you, once it had come out of the mist, i will let every one of you to found out what it is.
Also, i've written two short stories while i am home. I'm still reshaping it though, and regretfully by doing so, it won't be short story anymore.
All in all, it was lovely and fun to be home amongst your family, wasn't it? i've had a great time even though that there are no PlayStation2, DVDs, and PCs there.
Anyway, i'm back at Jakarta at 8:30 a.m today, and the very first thing i did was playing Tekken 5 on my PlayStation2 until 3:00 p.m.
Tuesday, March 15, 2005
Wednesday, March 02, 2005
Screening Log Column #8 (part 2)
Weekend U.S Box Office (Feb 25 - 27):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Diary of a Mad Black Woman - US$ 21.9 mills - US$ 21.9 mills
2. - Hitch - US$ 20.4 mills - US$ 121.4 mills
3. - Constantine - US$ 12 mills - US$ 50.9 mills
4. - Cursed - US$ 9.6 mills - US$ 9.6 mills
5. - Man of the House - US$ 8.9 mills - US$ 8.9 mills
6. - Million Dollar Baby - US$ 7.3 mills - US$ 64.8 mills
7. - Because of Winn-Dixie - US$ 6.8 mills - US$ 22.2 mills
8. - Are We There Yet? - US$ 4.1 mills - US$ 76.4 mills
9. - Son of the Mask - US$ 3.8 mills - US$ 14 mills
10. - The Aviator - US$ 3.7 mills - US$ 93.6 mills


Diary of a Mad Black Woman adalah film drama komedi yang berkisah tentang seorang wanita yang seakan-akan punya segalanya, latest fashion, newest cars, mansions, all the possessions, etc. sampai akhirnya suaminya memutuskan untuk menceraikannya dan menyisihkannya dari rumah mewahnya untuk diganti dengan wanita lain. Selanjutnya, sepertinya film ini berkonsentrasi kepada bagaimana si wanita ini pick-up her pieces. Film debut dari sutradara Darren Grant, not interested. Gw dulu suka sama Christina Ricci, aktingnya di Addams' Family was sooo cute and adorable, tapi makin ke sini kok makin tenggelam saja ya dia? sempat tampil lumayan bareng Charlize Theron di Monster, Ricci punya kecenderungan untuk bermain di film-film bergenre horor. Bukan pilihan yang salah sih menurut gw, dia punya track-record yang lumayan bagus dan pula didukung oleh raut muka yang cukup kelam. Film terbarunya, Cursed dibuka dengan lemah -- sepertinya semua film di Amerika minggu ini, lemah dengan hanya 20 juta dolar diperoleh oleh si pemuncak box-office --, hanya 9 juta dolar, juga bergenre horor. By the way, film horor ini plot utamanya melibatkan werewolf. Tidak pula mendapat review yang bagus. Film ketiga yang dirilis wide minggu ini, direview lebih parah, padahal bintang utama-nya Tommy Lee Jones. Tapi premise-nya, walaupun mengisyaratkan bahwa ini film akan menjadi semacam film seksi, tetap saja tidak begitu menjual. Di Man of the House, Tommy Lee Jones berperan sebagai seorang ranger yang ditugaskan untuk melindungi sekumpulan saksi kunci dari sebuah pembunuhan -- kelompok cheerleader dari University of Texas -- sampai pada akhirnya, karakter Tommy harus menyamar sebagai asisten pelatih cheerleader, dan tinggal serumah dengan kelompok cheerleader tersebut. Hmmmm, sexy girls? well, i wouldn't want to watch the movie anytime soon.


Later this week, Uma Thurman back on stage with John Travolta in Be Cool, Adrien Brody akan bermain sebagai veteran perang yang jatuh cinta dan melihat kematiannya sendiri ketika ia bepergian ke masa depan dalam The Jacket. Dengan Kiera Knightley, gw cukup tertarik sama film ini. Dan terakhir, Vin Diesel akan berperan sebagai NAVY Seal yang menjadi baby sitter untuk lima orang anak seorang ilmuwan pemerintah di The Pacifier.
From the Screening Log:
In addition with part 1 issues, this week Screening Log screened:
Film Inggris, Shaun of the Dead. Sudah jelas kelihatan dari judulnya bahwa film ini merupakan komedi satir dari film zombie klasik, Dawn of the Dead, yang remake-nya terbilang sukses (di mata gw). Ceritanya, Shaun adalah seorang pekerja yang lumayan menyedihkan... umur 29 tahun dan tinggal bersama sobat karibnya, Ed yang kerjanya tiap hari maen PS2, dan Pete. Liz, cewenya Shaun sudah bosan dengan kehidupan Shaun, dan ketika Shaun lupa akan janjinya untuk membawa Liz merayakan hubungan mereka, ia memutuskan hubungan mereka. Depresi, Shaun bertekat untuk memperbaiki hubungan mereka esok harinya, akan tetapi.. keesokan harinya, London sudah dipopulasi oleh zombie. Petualangan Shaun adalah petualangan yang sangat kocak, tapi juga bloody, jika mencari film horor yang segar, romantis, menyentuh, tapi juga sekaligus kocak, Shaun-lah jawabannya. Gw asik-asik aja tertawa ketika Shaun dan Ed memilih-milih piringan hitam yang akan dilempar sebagai senjata. Quote: "What about this? Batman soundtrack?", "Yeah, okay, throw it". Tapi juga ada scene yang mengharukan, scene yang cukup bikin perut mual juga ada, fans Dawn of the Dead juga gak akan kecewa. Bahkan George Remore, pembuat original Dawn of the Dead juga suka sama film ini.
Banyak orang yang bilang kalau Saw adalah horor terbaik bikinan Hollywood di thn. 2004. An damn, i'm sooo agreed. Filmnya dibuka ketika seorang pemuda bernama Adam mendapati dirinya terantai di sebuah ruangan bersama seorang dokter bedah yang juga sama-sama terantai. Di tengah ruangan, ada seorang laki-laki yang tengkurap dengan kepala berdarah-darah, sebuah pistol kosong di tangan kirinya, dan sebuah tape-recorder di tangan kanannya, Dokter Lawrence dihadapkan pada pilihan, dia mendapat sebuah peluru. Keluarganya diancam akan dibunuh apabila ia tidak membunuh Adam sebelum jam 6 sore. Si pembunuh juga menyiapkan permainan untuk Adam. Dan ketika Adam dan Dokter Lawrence mencoba menerka-nerka siapa dan apa di balik motif pembunuh, mereka punya 8 jam untuk mengambil keputusan. Keluhan gw terhadap film ini terutama ada 2. Satu, kameranya techno, jadi cara James Wan mengambil gambar seperti video-klip techno, putar 360 derajat, fast-frame-rate, dan sebagainya. Untungnya warna-warnaya mendukung atmofser film ini yang sangat-sangat misterius. Dua, aktingnya luar biasa buruk. Gw tidak convince sama sekali dengan karakter Adam. Apalagi dengan karakter Dokter Lawrence yang menurut gw terlalu muda untuk seorang family-man. Gw tidak bisa relate sama sekali dengan tokoh-tokoh di layar. Tapi sekali lagi, untungnya ceritanya cukup bagus dan menggelitik sehingga gw bisa sejenak meninggalkan relasi emosi gw terhadap film dan hanya mengandalkan relasi fisik saja (the make-up was good, though). Dan bener2 nggak nyangka kalau penjahatnya ternyata si itu.
Ketika gw bisa melihat sebuah film, gw tinggal 20 menit toilet-break, kembali dan masih bisa memahami intisari film itu, maka film itu adalah film yang boring, membosankan, tsumaranai, dan seterusnya. Aksinya lumayan sih, tapi itu saja yang bisa ditawarkan film ini. Gw lebih menikmati nonton Blade II daripada Blade: Trinity. Wesley Snipes juga tidak terlalu banyak omong di sini. Terlalu banyak plot-holes yang either menunjukkan ego penjahat yang terlalu tinggi atau simply karena kebodohan penjahatnya itu. Satu tokoh protagonis dimaksudkan untuk jadi pelawak.. but did you hear me laugh? not a bit. Untung saja gw masih demen sama Jessica Biel jadi lumayan terhibur. But overall, film ini adalah film yang bisa dengan mudah gw lupakan.
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Diary of a Mad Black Woman - US$ 21.9 mills - US$ 21.9 mills
2. - Hitch - US$ 20.4 mills - US$ 121.4 mills
3. - Constantine - US$ 12 mills - US$ 50.9 mills
4. - Cursed - US$ 9.6 mills - US$ 9.6 mills
5. - Man of the House - US$ 8.9 mills - US$ 8.9 mills
6. - Million Dollar Baby - US$ 7.3 mills - US$ 64.8 mills
7. - Because of Winn-Dixie - US$ 6.8 mills - US$ 22.2 mills
8. - Are We There Yet? - US$ 4.1 mills - US$ 76.4 mills
9. - Son of the Mask - US$ 3.8 mills - US$ 14 mills
10. - The Aviator - US$ 3.7 mills - US$ 93.6 mills
From the Screening Log:
In addition with part 1 issues, this week Screening Log screened:
Monday, February 28, 2005
Screening Log Column #8 (part 1)
Special Coverage:
77th Annual Academy Award winners (Screening Log's prediction in bracket):
Best Picture: Million Dollar Baby (Million Dollar Baby)
Best Director: Clint Eastwood (Clint Eastwood)
Best Actor: Jamie Foxx (Jamie Foxx)
Best Actress: Hillary Swank (Annette Bening)
Best Supporting Actor: Morgan Freeman (Clive Owen)
Best Supporting Actress: Cate Blanchet!!! (Cate Blanchet) -- finally, dear Cate!
Some surprising result. The Aviator, yang banyak orang menjagokan buat menang Best Picture ternyata kalah sama Million Dollar Baby. Dan Martin Scorcese, untuk kesekian kalinya kembali diremehkan oleh Oscar. Tapi terutama, Screening Log lumayan terkejut dengan tampilnya Morgan Freeman sebagai pemenang Best Supporting Actor. Masalahnya, di Million Dollar Baby, Morgan Freeman tidak terlihat terlalu mencolok, paling tidak bila dibandingkan dengna penampilan Clive Owen di Closer. But anyway, i didn't feel any vibe at all for this year's Academy Award ceremony unlike last year, when Lord of the Rings swept 11 awards. Well, i hope the movie had a better vibe this year.
Screening Log top 10 of 2004:
Two months late, i know.. but i need to had those certain times to get a hold of winter movies, as well as Academy Award's result. So, without further ado, here comes top 10 of 2004 from Screening Log's perspectivity (beware, subjectivity may bold).
10. The Bourne Supremacy.
Satu dari sedikit sekuel yang lebih baik dari seri ke-satu-nya. Screening Log menganggap sepanjang tahun 2004, The Bourne Supremacy adalah film aksi terbaik. Sedikit dari film-film bergenre aksi lain yang mendekati ketegangannya. Pace-nya luar biasa cepat, tegang, dan meskipun banyak orang mengeluhkan pergerakan kamera-nya, gw sendiri tidak menganggap itu sebagai hal yang mengganggu. Magnificent final shot.
9. Ray.
Gw selalu menikmati film musik, dan film ini jelas ditulis dengan konjungsi pada diskografi-nya Ray Charles. Terlihat terutama ketika Ray memainkan lagu "Hit the road, Jack" ketika ia dan selingkuhannya sedang bertengkar hebat. Ada beberapa hal yang mengganggu sih, terutama peran istri-nya Ray, dan durasi film yang sedikit terlalu panjang. Pun ada juga beberapa hal yang menakjubkan seperti peran ibu-nya Ray, i was really really enjoys her act in whenever she appears on screen.
8. Finding Neverland.
Another biopic, sepertinya memang trend di 2004 film-film cenderung bergerak ke arah situ. Jhonny Depp seperti biasa, tampil penuh energi, dan Kate Winslet, mm mh.. Kate Winslet, in my subjectivity, she was the best Actress of 2004. Menurut gw, film ini bisa lebih nyata dinikmati kalau penonton punya sedikit pengetahuan mengenai "Peter Pan" dan "Neverland"-nya.
7. Closer.
Profanity! Profanity!. Sebuah film yang menerima rating "R" bukan karena adegan kekerasan atau sensualisme, tapi lebih karena dialog-dialog yang jujur tapi kasar. Kekuatan film ini terletak pada aktor-aktris-nya. Mereka yang membawa film ini jadi begitu kuat, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa atmosfir filmnya juga membawa mereka untuk menjadi lebih kuat. Sangat menarik melihat karakter Alice dan denial-nya yang ditampilkan di akhir film.
6. Before Sunset.
Superb! Kalau di Closer benar-benar hanya ada empat tokoh yang benar-benar berdialog, di Before Sunset hanya ada dua. Kalau di Closer, time-span-nya scretch sampai bertahun-tahun, di Before Sunset, time-span-nya hanya 1 jam 20 menit, persis sama dengan durasi filmnya sendiri. Featuring some of the best trailing shot i've ever seen, screenplaynya ditulis oleh sutradara dan dua aktor-aktrisnya jadi sepanjang film kita seperti melihat dua orang sedang berdiskusi mengenai apa saja sambil sesekali mengenang masa lalu mereka yang indah (film ini adalah sekuel dari "Before Sunrise"). Menurut gw, ini adalah film romantis terbaik tahun 2004. Dan endingnya, ahhhhh.. gw berteriak puas ketika credit-title muncul. Puas. Benar-benar puas.
5. Collateral.
Clash of Characters! Gw suka banget sama karakter-nya Tom Cruise. Meskipun endingnya kurang berkenan buat gw, tapi duel Tom dan Jamie benar-benar mampu menyihir gw. Quote: Tom, "In Rwanda, thousands are died before sunrise". Jamie, "I dont know no Rwandan". Tom, "And you dont know the man in the trunk either". Ck...ck...ck... tidak akan lama sebelum gw putar film ini kembali.
4. Eternal Sunshine of the Spotless Mind.
Tidak sebaik Adaptation, tapi meski demikian, Charlie Kauffman tetap memperlihatkan kejeniusannya di film ini. Dan sekali lagi, Kate Winslet. mm..mh. Jim Carrey tidak tampil seperti biasanya, which is good, karena gw sudah mulai jenuh sama muka-karet-nya itu.
3. The Aviator.
Yet another biopic. Gw selalu senang nonton, atau baca tentang seseorang yang perfeksionis. Dan Howard Hughes was nowhere less than an ultra-perfectionist person. Bukan film yang emosional, atau inspirasional, bahkan ada kecenderungan film ini terlalu "dokumenter". Well, subjectivity holds. Dan Martin Scorcese, salah satu sutradara favorit gw, ciri khasnya mulai bisa gw rasakan. Sayang memang dia tidak bisa menang di Academy Award tapi apa mau dikata, Clint Eastwood di Million Dollar Baby buat gw juga lebih baik.
2. Kill Bill vol. 2.
QT. Period.
1. Million Dollar Baby.
Emosional. Gw nonton film ini bisa berdebar-debar. Dan ketika film ini pada akhirnya berkelok tajam 180 derajat ke arah yang berlawanan dengan jalur yang ditempuh Rocky, film ini mampu menangkap gw di kegelapan, dan kesuramannya. I always liked a dark and surreal scenes, and in this movie, all my desires was fulfilled to its full extend.
77th Annual Academy Award winners (Screening Log's prediction in bracket):
Best Picture: Million Dollar Baby (Million Dollar Baby)
Best Director: Clint Eastwood (Clint Eastwood)
Best Actor: Jamie Foxx (Jamie Foxx)
Best Actress: Hillary Swank (Annette Bening)
Best Supporting Actor: Morgan Freeman (Clive Owen)
Best Supporting Actress: Cate Blanchet!!! (Cate Blanchet) -- finally, dear Cate!
Some surprising result. The Aviator, yang banyak orang menjagokan buat menang Best Picture ternyata kalah sama Million Dollar Baby. Dan Martin Scorcese, untuk kesekian kalinya kembali diremehkan oleh Oscar. Tapi terutama, Screening Log lumayan terkejut dengan tampilnya Morgan Freeman sebagai pemenang Best Supporting Actor. Masalahnya, di Million Dollar Baby, Morgan Freeman tidak terlihat terlalu mencolok, paling tidak bila dibandingkan dengna penampilan Clive Owen di Closer. But anyway, i didn't feel any vibe at all for this year's Academy Award ceremony unlike last year, when Lord of the Rings swept 11 awards. Well, i hope the movie had a better vibe this year.
Screening Log top 10 of 2004:
Two months late, i know.. but i need to had those certain times to get a hold of winter movies, as well as Academy Award's result. So, without further ado, here comes top 10 of 2004 from Screening Log's perspectivity (beware, subjectivity may bold).
10. The Bourne Supremacy.
Satu dari sedikit sekuel yang lebih baik dari seri ke-satu-nya. Screening Log menganggap sepanjang tahun 2004, The Bourne Supremacy adalah film aksi terbaik. Sedikit dari film-film bergenre aksi lain yang mendekati ketegangannya. Pace-nya luar biasa cepat, tegang, dan meskipun banyak orang mengeluhkan pergerakan kamera-nya, gw sendiri tidak menganggap itu sebagai hal yang mengganggu. Magnificent final shot.
9. Ray.
Gw selalu menikmati film musik, dan film ini jelas ditulis dengan konjungsi pada diskografi-nya Ray Charles. Terlihat terutama ketika Ray memainkan lagu "Hit the road, Jack" ketika ia dan selingkuhannya sedang bertengkar hebat. Ada beberapa hal yang mengganggu sih, terutama peran istri-nya Ray, dan durasi film yang sedikit terlalu panjang. Pun ada juga beberapa hal yang menakjubkan seperti peran ibu-nya Ray, i was really really enjoys her act in whenever she appears on screen.
8. Finding Neverland.
Another biopic, sepertinya memang trend di 2004 film-film cenderung bergerak ke arah situ. Jhonny Depp seperti biasa, tampil penuh energi, dan Kate Winslet, mm mh.. Kate Winslet, in my subjectivity, she was the best Actress of 2004. Menurut gw, film ini bisa lebih nyata dinikmati kalau penonton punya sedikit pengetahuan mengenai "Peter Pan" dan "Neverland"-nya.
7. Closer.
Profanity! Profanity!. Sebuah film yang menerima rating "R" bukan karena adegan kekerasan atau sensualisme, tapi lebih karena dialog-dialog yang jujur tapi kasar. Kekuatan film ini terletak pada aktor-aktris-nya. Mereka yang membawa film ini jadi begitu kuat, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa atmosfir filmnya juga membawa mereka untuk menjadi lebih kuat. Sangat menarik melihat karakter Alice dan denial-nya yang ditampilkan di akhir film.
6. Before Sunset.
Superb! Kalau di Closer benar-benar hanya ada empat tokoh yang benar-benar berdialog, di Before Sunset hanya ada dua. Kalau di Closer, time-span-nya scretch sampai bertahun-tahun, di Before Sunset, time-span-nya hanya 1 jam 20 menit, persis sama dengan durasi filmnya sendiri. Featuring some of the best trailing shot i've ever seen, screenplaynya ditulis oleh sutradara dan dua aktor-aktrisnya jadi sepanjang film kita seperti melihat dua orang sedang berdiskusi mengenai apa saja sambil sesekali mengenang masa lalu mereka yang indah (film ini adalah sekuel dari "Before Sunrise"). Menurut gw, ini adalah film romantis terbaik tahun 2004. Dan endingnya, ahhhhh.. gw berteriak puas ketika credit-title muncul. Puas. Benar-benar puas.
5. Collateral.
Clash of Characters! Gw suka banget sama karakter-nya Tom Cruise. Meskipun endingnya kurang berkenan buat gw, tapi duel Tom dan Jamie benar-benar mampu menyihir gw. Quote: Tom, "In Rwanda, thousands are died before sunrise". Jamie, "I dont know no Rwandan". Tom, "And you dont know the man in the trunk either". Ck...ck...ck... tidak akan lama sebelum gw putar film ini kembali.
4. Eternal Sunshine of the Spotless Mind.
Tidak sebaik Adaptation, tapi meski demikian, Charlie Kauffman tetap memperlihatkan kejeniusannya di film ini. Dan sekali lagi, Kate Winslet. mm..mh. Jim Carrey tidak tampil seperti biasanya, which is good, karena gw sudah mulai jenuh sama muka-karet-nya itu.
3. The Aviator.
Yet another biopic. Gw selalu senang nonton, atau baca tentang seseorang yang perfeksionis. Dan Howard Hughes was nowhere less than an ultra-perfectionist person. Bukan film yang emosional, atau inspirasional, bahkan ada kecenderungan film ini terlalu "dokumenter". Well, subjectivity holds. Dan Martin Scorcese, salah satu sutradara favorit gw, ciri khasnya mulai bisa gw rasakan. Sayang memang dia tidak bisa menang di Academy Award tapi apa mau dikata, Clint Eastwood di Million Dollar Baby buat gw juga lebih baik.
2. Kill Bill vol. 2.
QT. Period.
1. Million Dollar Baby.
Emosional. Gw nonton film ini bisa berdebar-debar. Dan ketika film ini pada akhirnya berkelok tajam 180 derajat ke arah yang berlawanan dengan jalur yang ditempuh Rocky, film ini mampu menangkap gw di kegelapan, dan kesuramannya. I always liked a dark and surreal scenes, and in this movie, all my desires was fulfilled to its full extend.
Tuesday, February 22, 2005
Screening Log Column #7
Babblings:
I didn't see much movies last week, i was so drawn to Stephen King's 1400 pages epic "The Stand". Man! How i love the book already, even though that i've read only half of it and had a pretty good hunch of how the book will ends -- if you had read many Stephen King's, you would be able to see the pattern in which he ends the book. "The Stand" was supposedly become one of the most known work by Stephen King that it published twice, with the latter being 400 pages thicker. What i love the most about the book is that he didn't hesitate to wipe out the entire U.S. of A. population as in the first 300 pages or so there are many deaths and blood spilled all over country. The best scene, so far, was when the army wipe out the entire student that doing some protest at their campus. They didn't gave the warning shot for that matters, what they did was "shoot to kill" and how they had killed hundreds maybe thousands in that scene only. I was trembling wildly when i read the scene, as i could easily put myself among those student that flies around like bugs before the full-metal-jacket piercing bullets incapitated their bodies, and sent them to whatever fate wait them in the next world.
Weekend U.S Box Office (Feb 18 - 20):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Hitch - US$ 36.5 mills - US$ 94.8 mills
2. - Constantine - US$ 34.6 mills - US$ 34.6 mills
3. - Because of Winn-Dixie - US$ 13.2 mills - US$ 13.2 mills
4. - Son of the Mask - US$ 10.1 mills - US$ 10.1 mills
5. - Are We There Yet? - US$ 8.1 mills - US$ 71.1 mills
6. - Million Dollar Baby - US$ 7.7 mills - US$ 55.2 mills
7. - Boogeyman - US$ 6 mills - US$ 41.6 mills
8. - Pooh's Heffalump Movie - US$ 5.4 mills - US$ 12.6 mills
9. - The Aviator - US$ 5.04 mills - US$ 88.9 mills
10. - Sideways - US$ 4.9 mills - US$ 59.1 mills


Terbukti sudah, Will Smith punya daya tarik lebih dibanding si Neo - ups, Keanu Reeves. Film terbarunya Neo - ups, Keanu Reeves - Constantine tidak mampu menggeser Hitch meskipun marginnya relatif tipis. Ada beberapa hal yang menarik tentang Constantine. Pertama, film ini tampil duluan di Indonesia - pasti karena faktor Neo-nya. Kedua, hari Sabtu yang lalu, di jalan, gw menemukan banyak hal yang membuat gw semakin ndak suka sama Neo - ups, ah, kali ini tidak salah, kok. Di bus-way, ketika gw lewat di depan GM 21, sepasang mudi-mudi mengomentari film itu, "Ah! Kayak Matrix!".. ah, glad that anyone notice. Di Glodok, ada cewek yang memegang secarik kertas terus nanya ke setiap orang yang kelihatannya seperti penjual DVD bajakan. Gw sempat mengintip kertas itu dan ternyata, di atas kertas itu tertulis Constantine. Hal ini membuat gw berpikir, apa iya, si Neo ini - ups, Keanu Reeves - begitu terkenal di Indonesia sehingga filmnya mendapat kehormatan khusus untuk tampil duluan dari pada di negeri asalnya sono? Tak habis pikir, padahal menurut gw si Neo ini - ups, Keanu Reeves - boleh dibilang dalam kelas kualitas yang sama dengan Steven Seagal. Come to think of it, di 21 juga lagi diputer satu filmnya Steven Seagal.. ha.. ha.. ha.. Dua film baru berikutnya, tidak ada yang menarik gw selain bahwa Because of Winn-Dixie mendapat review yang lebih baik dari Constantine, dan Son of the Mask sekuel The Mask, memang sesuai yang diprediksikan bakal jelek. Gw sudah lihat trailernya Son of the Mask, and despite the cute CGI-ed dog that appears on the trailer, i have no interest at all to see this movie anytime soon.
Di luar kebiasaan, gw akan mosting upcoming, later this week movie release sampai pertengahan minggu ini.. gosh! i'm so tired.
From the Screening Log:
A day with Ms.Portman. Minggu ini Screening Log menonton film-film yang diperani oleh aktris favorit Screening Log, untuk saat ini: Natalie Portman.
Leon the Professional Film pertama Luc Besson yang di-shot di Amerika. Tentang seorang hit-man profesional, Leon (Jean Reno) yang by-chance terlibat dengan seorang tetangganya, gadis 12 tahun, Mathilda (Natalie Portman). I love the movie as much as when i had watched it for the first time years ago. Untuk Portman sendiri, this little girl had caught my eye back then and again that night as she act very convincingly of a little girl who came from the very dysfunctional family. Sentral dari film ini buat gw bukan aksi-nya yang sebenarnya sangat lumayan tapi akan hubungan Leon - Mathilda. Mathilda adalah seorang gadis kecil 12 tahun yang sudah mengalami terlalu banyak tragedi sepanjang hidupnya yang singkat itu. Dan ini membuatnya terlihat lebih kuat dari karakter Leon di film ini. Juga bagaimana akhirnya Mathilda, civilized the professional hit-man. Filmnya diambil di New York, tapi seandainya gw ga tahu fakta ini, gw bakal mengira kalau filmnya diambil di Eropa. Luc Besson somehow able to find Paris in Manhattan. This was the movie that in my short-list, bound to become a classic.
Garden State. Overrated. Terus terang gw bingung kenapa film ini mendapat kritik yang bagus, banyak yang suka, dan sempat-sempatnya membuat Sundance Film Festival 'bergerak'. Ceritanya tentang seorang 20-something loser, fully medicated, punya masalah komunikasi dengan keluarganya yang menyebabkan ia tidak pulang selama 9 tahun, sampai ketika ibunya meninggal. Dan ketika ia pulang ke rumah, dia menemukan dirinya kembali dan cintanya, Sam (Natalie Portman). Ah, i've seen the movie like that. Yes, i've seen it somewhere. Ini merupakan film feature pertama dari Zach Braff yang juga aktor utama, dan juga penulisnya. Cukup bisa dimengerti kenapa film ini hambar karena memang susah berdiri di atas tiga tempat sekaligus sementara kaki kita cuma ada dua. Buat gw yang menyelamatkan film ini cuma Natalie Portman yang tampil sangat menyenangkan di sini meskipun di beberapa scene gw juga merasa bosan dengan 'akting'-nya yang sungguh kentara. Karakter Zach Braff sendiri gagal menarik simpati gw. Bagi gw dia cuma seorang loser yang setiap waktu selalu mengeluh bahwa dirinya selalu depresi demi mendapat simpati dari orang-orang disekelilingnya. Bah. Mungkin kalau ia sedikit lebih berusaha untuk menjadi lebih baik, gw akan bersimpati. Tapi ini? tidak. Sama sekali tidak. Bahkan gw merasa tidak adil seandainya Sam pada akhirnya memberikan cintanya padanya. Stupid. Well, Mandy Moore once say that "Cupid is stupid". So i guess, the film was forgivable.
Closer. Premisenya menyebutkan bahwa inilah gambaran relationship yang modern. Jika memang demikian, man, what a terrifying modern world. Okay, passage berikut ini murni merupakan subyektifitas gw terhadap apa yang diusung oleh film ini. Gw merasa muak, sekaligus sedih ketika karakter Jude Law mengatakan pada karakter Clive Owen, "apa bedanya kita dengan binatang?". Ironis. Soalnya gw melihat setiap karakter di film yang minim ini (minim karena bintang-nya, yang ngomong lebih dari dua baris dialog hanya ada empat, Julia Roberts, Jude Law, Clive Owen, Natalie Portman) tak lebih dari binatang di film ini. Seenak perutnya gonta-ganti pasangan, melakukan seks bebas, by golly, dont they know that Adam and Eve were condemned from Heaven by the very same sin that they had been doing so casually, even as casual as a rooster who puts its privy to every hen he found interesting. Jeez. Subjectivity ends here. Terlepas dari itu, Mike Nichols, sutradara yang memang film-filmnya ngurek-ngurek buruknya moral manusia, cukup berhasil di film ini. Lihat saja, film ini sekilas mengusung nama "cinta" tapi tidak ada esensi "cinta" di film ini yang ada hanya "power". Siapa yang kuat, dia yang menang. Oh wait, yes! you're an animal!. Siapa yang tahu kelemahan lawannya, dialah yang kemudian berkuasa atas orang itu. Sangat-sangat berhasil dalam mengangkat isu tersebut, dan mungkin walaupun karakter-karakternya terlalu sinis, terlalu menyindir, tapi boleh jadi itu mungkin bagian dari realita, bagian dari moral manusia yang mau diejek oleh Mike Nichols dan kru-nya. Pun aktor-aktris-nya juga tampil sangat luar biasa, Julia Roberts bukan tampil sebagai bintang (seperti di Ocean's Twelve misalnya) tapi lebih sebagai aktris, Natalie Portman dalam apa yang sering disebut sebagai film dewasa pertamanya, tampil jujur, Jude Law? biasa, i've found that this guy had played in way too many movies that he turns out flat. Tapi yang benar-benar overshadowed the other was Clive Owen. Sulit dipercaya kalau dia dulu maen di King Arthur. All in all, Closer adalah film dewasa bukan dari adegan tapi dari dialog-dialog jujur dan kasar yang ber-rating "R". It also has the most memorable ending shot in 2004. Dan mind you, ini sama sekali bukan film yang bisa dinikmati kalau nontonnya sama orang lain (dengan kata lain, nonton film ini musti sendiri). I found myself, thinking about this movie. Even now.
I didn't see much movies last week, i was so drawn to Stephen King's 1400 pages epic "The Stand". Man! How i love the book already, even though that i've read only half of it and had a pretty good hunch of how the book will ends -- if you had read many Stephen King's, you would be able to see the pattern in which he ends the book. "The Stand" was supposedly become one of the most known work by Stephen King that it published twice, with the latter being 400 pages thicker. What i love the most about the book is that he didn't hesitate to wipe out the entire U.S. of A. population as in the first 300 pages or so there are many deaths and blood spilled all over country. The best scene, so far, was when the army wipe out the entire student that doing some protest at their campus. They didn't gave the warning shot for that matters, what they did was "shoot to kill" and how they had killed hundreds maybe thousands in that scene only. I was trembling wildly when i read the scene, as i could easily put myself among those student that flies around like bugs before the full-metal-jacket piercing bullets incapitated their bodies, and sent them to whatever fate wait them in the next world.
Weekend U.S Box Office (Feb 18 - 20):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Hitch - US$ 36.5 mills - US$ 94.8 mills
2. - Constantine - US$ 34.6 mills - US$ 34.6 mills
3. - Because of Winn-Dixie - US$ 13.2 mills - US$ 13.2 mills
4. - Son of the Mask - US$ 10.1 mills - US$ 10.1 mills
5. - Are We There Yet? - US$ 8.1 mills - US$ 71.1 mills
6. - Million Dollar Baby - US$ 7.7 mills - US$ 55.2 mills
7. - Boogeyman - US$ 6 mills - US$ 41.6 mills
8. - Pooh's Heffalump Movie - US$ 5.4 mills - US$ 12.6 mills
9. - The Aviator - US$ 5.04 mills - US$ 88.9 mills
10. - Sideways - US$ 4.9 mills - US$ 59.1 mills
Di luar kebiasaan, gw akan mosting upcoming, later this week movie release sampai pertengahan minggu ini.. gosh! i'm so tired.
From the Screening Log:
A day with Ms.Portman. Minggu ini Screening Log menonton film-film yang diperani oleh aktris favorit Screening Log, untuk saat ini: Natalie Portman.
Irrelevant Mumblings
Tidur: Disorientasi? Atau hanya Habit?
Tidur itu karunia. Tuhan telah memberi kita malam hari, dan asosiasi yang tepat dengan tidur untuk beristirahat, mengisi kembali batere, meregenerasi sel-sel yang mati, atau sekedar sejenak melupakan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di siang harinya. Apapun alasannya, tidur adalah saat istimewa bagi seorang manusia. Bahkan, menurut gw, mati di saat tidur, meskipun mungkin bukan mati yang paling istimewa adalah mati yang paling damai. Quoting Elle Driver -- ndak terlalu mirip sih -- di Kill Bill vol. 1, "For a person with job like ours, to die in bed was a luxury".
Gw sendiri punya 'kebiasaan' -- i dont know what to call it, so i think i stick to the 'habit' instead -- tidur yang "susah tidur, gampang bangun" sehingga suara-suara yang tidak akrab di telinga gw -- contoh-contoh suara akrab buat gw, suara kipas angin, suara komputer, suara kulkas, dengkurannya api, suara sepeda motor di jalan, dan suara adzan --, walaupun desibelnya rendah pasti akan membuat gw terjaga. Dan seandainya itu terjadi, butuh beberapa jam lagi untuk bisa membuat gw tidur kembali meskipun sebelumnya gw baru tidur 10 menit. Kebiasaan (untuk mudahnya, gw menghilangkan single-quote-nya) ini boleh dibilang berkah tapi sekaligus kutukan. Berkah-nya sih gw bisa dengan sangat mudah bangun di malam hari. Terlepas dari kegiatan apa yang gw lakukan di malam hari, perhatikan bahwa gw memakai kata 'berkah' karena... ya... begitu deh. Kutukan-nya, tentunya kembali lagi ke konsep 'tidur sebagai karunia' yang gw sebut di kata pertama di atas. Jika tidur itu karunia, gw yang sering kali kurang tidur ini bisa dikatakan kekurangan 'karunia' tersebut.
Tunggu sebentar. Gw? kekurangan tidur? ha ha.. some of you will laugh out loud on this. Tapi tunggu sebentar, sebagian besar orang punya jam tidur yang fixed. Yang tetap, terjadwal dengan sempurna di jam biologis mereka. Beda dengan gw, meskipun gw tidak pernah pergi keliling dunia, gw sering kali berada dalam kondisi jet-lag. Jam biologis gw kacau balau. Gw bisa tidur selama 14 jam sehari (that's my current record, yes) kalau tidak ada gangguan sama sekali (sekali lagi, gw "susah tidur, gampang bangun") tapi sering kali gw cuma tidur selama 1 jam saja dalam durasi 24 jam. Hari ini misalnya, gw baru tidur 2 jam, and here i am, with my second cup of coffee for this morning only, writing this entry. Jadi, gw rasa cukup adil dan beralasan kalau gw bilang, gw ini kekurangan tidur. Tambahkanlah kata sehat di belakangnya menjadi "gw ini kekurangan tidur yang sehat" biar lebih terasa empasis-nya.
Ada dua hal yang paling gw tidak suka dalam kaitannya dengan tidur. Satu, ketika gw terbangun dari mimpi. Seperti yang gw alami pagi ini. Para ahli sudah menyimpulkan bahwa mimpi terjadi ketika kita sedang dalam kondisi tidur REM (Rapid Eye Movement). Pada saat REM, kondisi tubuh akan kontradiktif dengan definisi tidur nyenyak. Dalam semalam, manusia normal akan mengalami 4 - 6 REM dengan tidur yang benar-benar dikategorikan sebagai tidur nyenyak di antara masing-masing fase REM tadi. Nah, ketika gw terbangun dari mimpi, terhentak dengan paksa dari REM, gw selalu akan merasa segar seperti sudah tidur selama 6 - 8 jam. Padahal kenyataannya kalau gw lihat jam, gw pasti akan menggerutu, "shit.. baru jam sekian!". Pernah bahkan suatu hari, belum lama berselang, gw baru tidur 10 menit, terbangun dari mimpi dan kemudian terjaga selama 7 jam sebelum bisa tertidur kembali. And that's very much annoy me. Tapi gw tidak bisa melakukan apa-apa terhadapnya. Sekali waktu, tanpa bisa terprediksi, kejadian itu pasti datang lagi, seperti tamu yang tak diundang, un-wanted but always come in dire times.
Yang kedua, disorientasi gw yang kedua tentang tidur ini berkaitan dengan entri gw berikutnya.
Anger Management: Analyze This
Pernah benar-benar marah sampai nggak bisa ngomong apa-apa? Kalau iya, apa yang akan kaulakukan? Ini cerita gw ketika gw benar-benar merasa marah. Kejadiannya pun belum lama berselang.
Di entri sebelumnya gw sudah menyebutkan satu dari dua hal yang tidak gw suka kalau sedang tidur. Nah yang kedua, adalah tentu saja ketika gw terbangun dengan paksa gara-gara suara yang tidak bersahabat sama gw, suara-suara yang tidak gw inginkan. Ketika itu, gw baru tidur selama satu jam setelah malam sebelumnya gw terbangun dari REM setelah hanya 10 menit gw memejamkan mata. Ditambah lagi, malam sebelumnya gw baru pulang jam 12 malam. Nah ketika pagi itu tiba-tiba pintu kamar gw diketuk, gw merasa benar-benar terganggu dan ketika gw buka, kehadiran seorang teman gw yang sama sekali tidak gw inginkan datang. Di antara teman-teman gw yang lain, this guy is the least expected person to disturb me. Bisa dimaafkan sih, mengingat dia tentu tidak se-faham teman-teman gw yang lain. Tapi hari itu entah kenapa setiap apa yang ia lakukan terlihat salah di mata gw, setiap apa yang ia lakukan menggelitik rasa marah gw. Dan saat itu, rasa marah gw adalah makhluk yang paling sensitif sama geli. Akhirnya di tengah rasa marah gw, yang gw berusaha sebisa mungkin untuk gw penjara, gw memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Mau tahu rute gw? Pokus, Depok - Pondok Indah - Blok M - Glodok - Gramedia, Depok - Pokus, Depok. Dan selama itu gw merasa bener-bener bisa tidur berdiri. Terutama saat naik kereta dari Kota - Depok. Tapi gw rasa itu jalan yang terbaik, daripada gw di kos harus menghadapi dia di tengah usaha gw untuk menggembok si rasa marah yang pasti akan segera bebas seandainya terus digelitik, gw pergi jalan-jalan, dan belanja. O yes, i spent almost 400 thousand rupiahs in that day. What a feast, what a costy anger management. Tapi cukup berhasil, bahkan gw ragu-ragu kalau misalnya gw membayar psikiater untuk melakukan anger management yang mungkin malah lebih mahal daripada biaya gw hari itu akan seberhasil anger management yang gw lakukan. Tapi gw ga ingin marah2 lagi ah, mahal.
Tidur itu karunia. Tuhan telah memberi kita malam hari, dan asosiasi yang tepat dengan tidur untuk beristirahat, mengisi kembali batere, meregenerasi sel-sel yang mati, atau sekedar sejenak melupakan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di siang harinya. Apapun alasannya, tidur adalah saat istimewa bagi seorang manusia. Bahkan, menurut gw, mati di saat tidur, meskipun mungkin bukan mati yang paling istimewa adalah mati yang paling damai. Quoting Elle Driver -- ndak terlalu mirip sih -- di Kill Bill vol. 1, "For a person with job like ours, to die in bed was a luxury".
Gw sendiri punya 'kebiasaan' -- i dont know what to call it, so i think i stick to the 'habit' instead -- tidur yang "susah tidur, gampang bangun" sehingga suara-suara yang tidak akrab di telinga gw -- contoh-contoh suara akrab buat gw, suara kipas angin, suara komputer, suara kulkas, dengkurannya api, suara sepeda motor di jalan, dan suara adzan --, walaupun desibelnya rendah pasti akan membuat gw terjaga. Dan seandainya itu terjadi, butuh beberapa jam lagi untuk bisa membuat gw tidur kembali meskipun sebelumnya gw baru tidur 10 menit. Kebiasaan (untuk mudahnya, gw menghilangkan single-quote-nya) ini boleh dibilang berkah tapi sekaligus kutukan. Berkah-nya sih gw bisa dengan sangat mudah bangun di malam hari. Terlepas dari kegiatan apa yang gw lakukan di malam hari, perhatikan bahwa gw memakai kata 'berkah' karena... ya... begitu deh. Kutukan-nya, tentunya kembali lagi ke konsep 'tidur sebagai karunia' yang gw sebut di kata pertama di atas. Jika tidur itu karunia, gw yang sering kali kurang tidur ini bisa dikatakan kekurangan 'karunia' tersebut.
Tunggu sebentar. Gw? kekurangan tidur? ha ha.. some of you will laugh out loud on this. Tapi tunggu sebentar, sebagian besar orang punya jam tidur yang fixed. Yang tetap, terjadwal dengan sempurna di jam biologis mereka. Beda dengan gw, meskipun gw tidak pernah pergi keliling dunia, gw sering kali berada dalam kondisi jet-lag. Jam biologis gw kacau balau. Gw bisa tidur selama 14 jam sehari (that's my current record, yes) kalau tidak ada gangguan sama sekali (sekali lagi, gw "susah tidur, gampang bangun") tapi sering kali gw cuma tidur selama 1 jam saja dalam durasi 24 jam. Hari ini misalnya, gw baru tidur 2 jam, and here i am, with my second cup of coffee for this morning only, writing this entry. Jadi, gw rasa cukup adil dan beralasan kalau gw bilang, gw ini kekurangan tidur. Tambahkanlah kata sehat di belakangnya menjadi "gw ini kekurangan tidur yang sehat" biar lebih terasa empasis-nya.
Ada dua hal yang paling gw tidak suka dalam kaitannya dengan tidur. Satu, ketika gw terbangun dari mimpi. Seperti yang gw alami pagi ini. Para ahli sudah menyimpulkan bahwa mimpi terjadi ketika kita sedang dalam kondisi tidur REM (Rapid Eye Movement). Pada saat REM, kondisi tubuh akan kontradiktif dengan definisi tidur nyenyak. Dalam semalam, manusia normal akan mengalami 4 - 6 REM dengan tidur yang benar-benar dikategorikan sebagai tidur nyenyak di antara masing-masing fase REM tadi. Nah, ketika gw terbangun dari mimpi, terhentak dengan paksa dari REM, gw selalu akan merasa segar seperti sudah tidur selama 6 - 8 jam. Padahal kenyataannya kalau gw lihat jam, gw pasti akan menggerutu, "shit.. baru jam sekian!". Pernah bahkan suatu hari, belum lama berselang, gw baru tidur 10 menit, terbangun dari mimpi dan kemudian terjaga selama 7 jam sebelum bisa tertidur kembali. And that's very much annoy me. Tapi gw tidak bisa melakukan apa-apa terhadapnya. Sekali waktu, tanpa bisa terprediksi, kejadian itu pasti datang lagi, seperti tamu yang tak diundang, un-wanted but always come in dire times.
Yang kedua, disorientasi gw yang kedua tentang tidur ini berkaitan dengan entri gw berikutnya.
Anger Management: Analyze This
Pernah benar-benar marah sampai nggak bisa ngomong apa-apa? Kalau iya, apa yang akan kaulakukan? Ini cerita gw ketika gw benar-benar merasa marah. Kejadiannya pun belum lama berselang.
Di entri sebelumnya gw sudah menyebutkan satu dari dua hal yang tidak gw suka kalau sedang tidur. Nah yang kedua, adalah tentu saja ketika gw terbangun dengan paksa gara-gara suara yang tidak bersahabat sama gw, suara-suara yang tidak gw inginkan. Ketika itu, gw baru tidur selama satu jam setelah malam sebelumnya gw terbangun dari REM setelah hanya 10 menit gw memejamkan mata. Ditambah lagi, malam sebelumnya gw baru pulang jam 12 malam. Nah ketika pagi itu tiba-tiba pintu kamar gw diketuk, gw merasa benar-benar terganggu dan ketika gw buka, kehadiran seorang teman gw yang sama sekali tidak gw inginkan datang. Di antara teman-teman gw yang lain, this guy is the least expected person to disturb me. Bisa dimaafkan sih, mengingat dia tentu tidak se-faham teman-teman gw yang lain. Tapi hari itu entah kenapa setiap apa yang ia lakukan terlihat salah di mata gw, setiap apa yang ia lakukan menggelitik rasa marah gw. Dan saat itu, rasa marah gw adalah makhluk yang paling sensitif sama geli. Akhirnya di tengah rasa marah gw, yang gw berusaha sebisa mungkin untuk gw penjara, gw memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Mau tahu rute gw? Pokus, Depok - Pondok Indah - Blok M - Glodok - Gramedia, Depok - Pokus, Depok. Dan selama itu gw merasa bener-bener bisa tidur berdiri. Terutama saat naik kereta dari Kota - Depok. Tapi gw rasa itu jalan yang terbaik, daripada gw di kos harus menghadapi dia di tengah usaha gw untuk menggembok si rasa marah yang pasti akan segera bebas seandainya terus digelitik, gw pergi jalan-jalan, dan belanja. O yes, i spent almost 400 thousand rupiahs in that day. What a feast, what a costy anger management. Tapi cukup berhasil, bahkan gw ragu-ragu kalau misalnya gw membayar psikiater untuk melakukan anger management yang mungkin malah lebih mahal daripada biaya gw hari itu akan seberhasil anger management yang gw lakukan. Tapi gw ga ingin marah2 lagi ah, mahal.
Subscribe to:
Posts (Atom)