Monday, February 28, 2005

Screening Log Column #8 (part 1)

Special Coverage:

77th Annual Academy Award winners (Screening Log's prediction in bracket):
Best Picture: Million Dollar Baby (Million Dollar Baby)
Best Director: Clint Eastwood (Clint Eastwood)
Best Actor: Jamie Foxx (Jamie Foxx)
Best Actress: Hillary Swank (Annette Bening)
Best Supporting Actor: Morgan Freeman (Clive Owen)
Best Supporting Actress: Cate Blanchet!!! (Cate Blanchet) -- finally, dear Cate!

Some surprising result. The Aviator, yang banyak orang menjagokan buat menang Best Picture ternyata kalah sama Million Dollar Baby. Dan Martin Scorcese, untuk kesekian kalinya kembali diremehkan oleh Oscar. Tapi terutama, Screening Log lumayan terkejut dengan tampilnya Morgan Freeman sebagai pemenang Best Supporting Actor. Masalahnya, di Million Dollar Baby, Morgan Freeman tidak terlihat terlalu mencolok, paling tidak bila dibandingkan dengna penampilan Clive Owen di Closer. But anyway, i didn't feel any vibe at all for this year's Academy Award ceremony unlike last year, when Lord of the Rings swept 11 awards. Well, i hope the movie had a better vibe this year.

Screening Log top 10 of 2004:

Two months late, i know.. but i need to had those certain times to get a hold of winter movies, as well as Academy Award's result. So, without further ado, here comes top 10 of 2004 from Screening Log's perspectivity (beware, subjectivity may bold).

10. The Bourne Supremacy.
Satu dari sedikit sekuel yang lebih baik dari seri ke-satu-nya. Screening Log menganggap sepanjang tahun 2004, The Bourne Supremacy adalah film aksi terbaik. Sedikit dari film-film bergenre aksi lain yang mendekati ketegangannya. Pace-nya luar biasa cepat, tegang, dan meskipun banyak orang mengeluhkan pergerakan kamera-nya, gw sendiri tidak menganggap itu sebagai hal yang mengganggu. Magnificent final shot.

9. Ray.
Gw selalu menikmati film musik, dan film ini jelas ditulis dengan konjungsi pada diskografi-nya Ray Charles. Terlihat terutama ketika Ray memainkan lagu "Hit the road, Jack" ketika ia dan selingkuhannya sedang bertengkar hebat. Ada beberapa hal yang mengganggu sih, terutama peran istri-nya Ray, dan durasi film yang sedikit terlalu panjang. Pun ada juga beberapa hal yang menakjubkan seperti peran ibu-nya Ray, i was really really enjoys her act in whenever she appears on screen.

8. Finding Neverland.
Another biopic, sepertinya memang trend di 2004 film-film cenderung bergerak ke arah situ. Jhonny Depp seperti biasa, tampil penuh energi, dan Kate Winslet, mm mh.. Kate Winslet, in my subjectivity, she was the best Actress of 2004. Menurut gw, film ini bisa lebih nyata dinikmati kalau penonton punya sedikit pengetahuan mengenai "Peter Pan" dan "Neverland"-nya.

7. Closer.
Profanity! Profanity!. Sebuah film yang menerima rating "R" bukan karena adegan kekerasan atau sensualisme, tapi lebih karena dialog-dialog yang jujur tapi kasar. Kekuatan film ini terletak pada aktor-aktris-nya. Mereka yang membawa film ini jadi begitu kuat, meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa atmosfir filmnya juga membawa mereka untuk menjadi lebih kuat. Sangat menarik melihat karakter Alice dan denial-nya yang ditampilkan di akhir film.

6. Before Sunset.
Superb! Kalau di Closer benar-benar hanya ada empat tokoh yang benar-benar berdialog, di Before Sunset hanya ada dua. Kalau di Closer, time-span-nya scretch sampai bertahun-tahun, di Before Sunset, time-span-nya hanya 1 jam 20 menit, persis sama dengan durasi filmnya sendiri. Featuring some of the best trailing shot i've ever seen, screenplaynya ditulis oleh sutradara dan dua aktor-aktrisnya jadi sepanjang film kita seperti melihat dua orang sedang berdiskusi mengenai apa saja sambil sesekali mengenang masa lalu mereka yang indah (film ini adalah sekuel dari "Before Sunrise"). Menurut gw, ini adalah film romantis terbaik tahun 2004. Dan endingnya, ahhhhh.. gw berteriak puas ketika credit-title muncul. Puas. Benar-benar puas.

5. Collateral.
Clash of Characters! Gw suka banget sama karakter-nya Tom Cruise. Meskipun endingnya kurang berkenan buat gw, tapi duel Tom dan Jamie benar-benar mampu menyihir gw. Quote: Tom, "In Rwanda, thousands are died before sunrise". Jamie, "I dont know no Rwandan". Tom, "And you dont know the man in the trunk either". Ck...ck...ck... tidak akan lama sebelum gw putar film ini kembali.

4. Eternal Sunshine of the Spotless Mind.
Tidak sebaik Adaptation, tapi meski demikian, Charlie Kauffman tetap memperlihatkan kejeniusannya di film ini. Dan sekali lagi, Kate Winslet. mm..mh. Jim Carrey tidak tampil seperti biasanya, which is good, karena gw sudah mulai jenuh sama muka-karet-nya itu.

3. The Aviator.
Yet another biopic. Gw selalu senang nonton, atau baca tentang seseorang yang perfeksionis. Dan Howard Hughes was nowhere less than an ultra-perfectionist person. Bukan film yang emosional, atau inspirasional, bahkan ada kecenderungan film ini terlalu "dokumenter". Well, subjectivity holds. Dan Martin Scorcese, salah satu sutradara favorit gw, ciri khasnya mulai bisa gw rasakan. Sayang memang dia tidak bisa menang di Academy Award tapi apa mau dikata, Clint Eastwood di Million Dollar Baby buat gw juga lebih baik.

2. Kill Bill vol. 2.
QT. Period.

1. Million Dollar Baby.
Emosional. Gw nonton film ini bisa berdebar-debar. Dan ketika film ini pada akhirnya berkelok tajam 180 derajat ke arah yang berlawanan dengan jalur yang ditempuh Rocky, film ini mampu menangkap gw di kegelapan, dan kesuramannya. I always liked a dark and surreal scenes, and in this movie, all my desires was fulfilled to its full extend.

Tuesday, February 22, 2005

Screening Log Column #7

Babblings:

I didn't see much movies last week, i was so drawn to Stephen King's 1400 pages epic "The Stand". Man! How i love the book already, even though that i've read only half of it and had a pretty good hunch of how the book will ends -- if you had read many Stephen King's, you would be able to see the pattern in which he ends the book. "The Stand" was supposedly become one of the most known work by Stephen King that it published twice, with the latter being 400 pages thicker. What i love the most about the book is that he didn't hesitate to wipe out the entire U.S. of A. population as in the first 300 pages or so there are many deaths and blood spilled all over country. The best scene, so far, was when the army wipe out the entire student that doing some protest at their campus. They didn't gave the warning shot for that matters, what they did was "shoot to kill" and how they had killed hundreds maybe thousands in that scene only. I was trembling wildly when i read the scene, as i could easily put myself among those student that flies around like bugs before the full-metal-jacket piercing bullets incapitated their bodies, and sent them to whatever fate wait them in the next world.

Weekend U.S Box Office (Feb 18 - 20):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Hitch - US$ 36.5 mills - US$ 94.8 mills
2. - Constantine - US$ 34.6 mills - US$ 34.6 mills
3. - Because of Winn-Dixie - US$ 13.2 mills - US$ 13.2 mills
4. - Son of the Mask - US$ 10.1 mills - US$ 10.1 mills
5. - Are We There Yet? - US$ 8.1 mills - US$ 71.1 mills
6. - Million Dollar Baby - US$ 7.7 mills - US$ 55.2 mills
7. - Boogeyman - US$ 6 mills - US$ 41.6 mills
8. - Pooh's Heffalump Movie - US$ 5.4 mills - US$ 12.6 mills
9. - The Aviator - US$ 5.04 mills - US$ 88.9 mills
10. - Sideways - US$ 4.9 mills - US$ 59.1 mills

Terbukti sudah, Will Smith punya daya tarik lebih dibanding si Neo - ups, Keanu Reeves. Film terbarunya Neo - ups, Keanu Reeves - Constantine tidak mampu menggeser Hitch meskipun marginnya relatif tipis. Ada beberapa hal yang menarik tentang Constantine. Pertama, film ini tampil duluan di Indonesia - pasti karena faktor Neo-nya. Kedua, hari Sabtu yang lalu, di jalan, gw menemukan banyak hal yang membuat gw semakin ndak suka sama Neo - ups, ah, kali ini tidak salah, kok. Di bus-way, ketika gw lewat di depan GM 21, sepasang mudi-mudi mengomentari film itu, "Ah! Kayak Matrix!".. ah, glad that anyone notice. Di Glodok, ada cewek yang memegang secarik kertas terus nanya ke setiap orang yang kelihatannya seperti penjual DVD bajakan. Gw sempat mengintip kertas itu dan ternyata, di atas kertas itu tertulis Constantine. Hal ini membuat gw berpikir, apa iya, si Neo ini - ups, Keanu Reeves - begitu terkenal di Indonesia sehingga filmnya mendapat kehormatan khusus untuk tampil duluan dari pada di negeri asalnya sono? Tak habis pikir, padahal menurut gw si Neo ini - ups, Keanu Reeves - boleh dibilang dalam kelas kualitas yang sama dengan Steven Seagal. Come to think of it, di 21 juga lagi diputer satu filmnya Steven Seagal.. ha.. ha.. ha.. Dua film baru berikutnya, tidak ada yang menarik gw selain bahwa Because of Winn-Dixie mendapat review yang lebih baik dari Constantine, dan Son of the Mask sekuel The Mask, memang sesuai yang diprediksikan bakal jelek. Gw sudah lihat trailernya Son of the Mask, and despite the cute CGI-ed dog that appears on the trailer, i have no interest at all to see this movie anytime soon.

Di luar kebiasaan, gw akan mosting upcoming, later this week movie release sampai pertengahan minggu ini.. gosh! i'm so tired.

From the Screening Log:

A day with Ms.Portman. Minggu ini Screening Log menonton film-film yang diperani oleh aktris favorit Screening Log, untuk saat ini: Natalie Portman.
Leon the Professional Film pertama Luc Besson yang di-shot di Amerika. Tentang seorang hit-man profesional, Leon (Jean Reno) yang by-chance terlibat dengan seorang tetangganya, gadis 12 tahun, Mathilda (Natalie Portman). I love the movie as much as when i had watched it for the first time years ago. Untuk Portman sendiri, this little girl had caught my eye back then and again that night as she act very convincingly of a little girl who came from the very dysfunctional family. Sentral dari film ini buat gw bukan aksi-nya yang sebenarnya sangat lumayan tapi akan hubungan Leon - Mathilda. Mathilda adalah seorang gadis kecil 12 tahun yang sudah mengalami terlalu banyak tragedi sepanjang hidupnya yang singkat itu. Dan ini membuatnya terlihat lebih kuat dari karakter Leon di film ini. Juga bagaimana akhirnya Mathilda, civilized the professional hit-man. Filmnya diambil di New York, tapi seandainya gw ga tahu fakta ini, gw bakal mengira kalau filmnya diambil di Eropa. Luc Besson somehow able to find Paris in Manhattan. This was the movie that in my short-list, bound to become a classic.

Garden State. Overrated. Terus terang gw bingung kenapa film ini mendapat kritik yang bagus, banyak yang suka, dan sempat-sempatnya membuat Sundance Film Festival 'bergerak'. Ceritanya tentang seorang 20-something loser, fully medicated, punya masalah komunikasi dengan keluarganya yang menyebabkan ia tidak pulang selama 9 tahun, sampai ketika ibunya meninggal. Dan ketika ia pulang ke rumah, dia menemukan dirinya kembali dan cintanya, Sam (Natalie Portman). Ah, i've seen the movie like that. Yes, i've seen it somewhere. Ini merupakan film feature pertama dari Zach Braff yang juga aktor utama, dan juga penulisnya. Cukup bisa dimengerti kenapa film ini hambar karena memang susah berdiri di atas tiga tempat sekaligus sementara kaki kita cuma ada dua. Buat gw yang menyelamatkan film ini cuma Natalie Portman yang tampil sangat menyenangkan di sini meskipun di beberapa scene gw juga merasa bosan dengan 'akting'-nya yang sungguh kentara. Karakter Zach Braff sendiri gagal menarik simpati gw. Bagi gw dia cuma seorang loser yang setiap waktu selalu mengeluh bahwa dirinya selalu depresi demi mendapat simpati dari orang-orang disekelilingnya. Bah. Mungkin kalau ia sedikit lebih berusaha untuk menjadi lebih baik, gw akan bersimpati. Tapi ini? tidak. Sama sekali tidak. Bahkan gw merasa tidak adil seandainya Sam pada akhirnya memberikan cintanya padanya. Stupid. Well, Mandy Moore once say that "Cupid is stupid". So i guess, the film was forgivable.

Closer. Premisenya menyebutkan bahwa inilah gambaran relationship yang modern. Jika memang demikian, man, what a terrifying modern world. Okay, passage berikut ini murni merupakan subyektifitas gw terhadap apa yang diusung oleh film ini. Gw merasa muak, sekaligus sedih ketika karakter Jude Law mengatakan pada karakter Clive Owen, "apa bedanya kita dengan binatang?". Ironis. Soalnya gw melihat setiap karakter di film yang minim ini (minim karena bintang-nya, yang ngomong lebih dari dua baris dialog hanya ada empat, Julia Roberts, Jude Law, Clive Owen, Natalie Portman) tak lebih dari binatang di film ini. Seenak perutnya gonta-ganti pasangan, melakukan seks bebas, by golly, dont they know that Adam and Eve were condemned from Heaven by the very same sin that they had been doing so casually, even as casual as a rooster who puts its privy to every hen he found interesting. Jeez. Subjectivity ends here. Terlepas dari itu, Mike Nichols, sutradara yang memang film-filmnya ngurek-ngurek buruknya moral manusia, cukup berhasil di film ini. Lihat saja, film ini sekilas mengusung nama "cinta" tapi tidak ada esensi "cinta" di film ini yang ada hanya "power". Siapa yang kuat, dia yang menang. Oh wait, yes! you're an animal!. Siapa yang tahu kelemahan lawannya, dialah yang kemudian berkuasa atas orang itu. Sangat-sangat berhasil dalam mengangkat isu tersebut, dan mungkin walaupun karakter-karakternya terlalu sinis, terlalu menyindir, tapi boleh jadi itu mungkin bagian dari realita, bagian dari moral manusia yang mau diejek oleh Mike Nichols dan kru-nya. Pun aktor-aktris-nya juga tampil sangat luar biasa, Julia Roberts bukan tampil sebagai bintang (seperti di Ocean's Twelve misalnya) tapi lebih sebagai aktris, Natalie Portman dalam apa yang sering disebut sebagai film dewasa pertamanya, tampil jujur, Jude Law? biasa, i've found that this guy had played in way too many movies that he turns out flat. Tapi yang benar-benar overshadowed the other was Clive Owen. Sulit dipercaya kalau dia dulu maen di King Arthur. All in all, Closer adalah film dewasa bukan dari adegan tapi dari dialog-dialog jujur dan kasar yang ber-rating "R". It also has the most memorable ending shot in 2004. Dan mind you, ini sama sekali bukan film yang bisa dinikmati kalau nontonnya sama orang lain (dengan kata lain, nonton film ini musti sendiri). I found myself, thinking about this movie. Even now.

Irrelevant Mumblings

Tidur: Disorientasi? Atau hanya Habit?

Tidur itu karunia. Tuhan telah memberi kita malam hari, dan asosiasi yang tepat dengan tidur untuk beristirahat, mengisi kembali batere, meregenerasi sel-sel yang mati, atau sekedar sejenak melupakan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di siang harinya. Apapun alasannya, tidur adalah saat istimewa bagi seorang manusia. Bahkan, menurut gw, mati di saat tidur, meskipun mungkin bukan mati yang paling istimewa adalah mati yang paling damai. Quoting Elle Driver -- ndak terlalu mirip sih -- di Kill Bill vol. 1, "For a person with job like ours, to die in bed was a luxury".

Gw sendiri punya 'kebiasaan' -- i dont know what to call it, so i think i stick to the 'habit' instead -- tidur yang "susah tidur, gampang bangun" sehingga suara-suara yang tidak akrab di telinga gw -- contoh-contoh suara akrab buat gw, suara kipas angin, suara komputer, suara kulkas, dengkurannya api, suara sepeda motor di jalan, dan suara adzan --, walaupun desibelnya rendah pasti akan membuat gw terjaga. Dan seandainya itu terjadi, butuh beberapa jam lagi untuk bisa membuat gw tidur kembali meskipun sebelumnya gw baru tidur 10 menit. Kebiasaan (untuk mudahnya, gw menghilangkan single-quote-nya) ini boleh dibilang berkah tapi sekaligus kutukan. Berkah-nya sih gw bisa dengan sangat mudah bangun di malam hari. Terlepas dari kegiatan apa yang gw lakukan di malam hari, perhatikan bahwa gw memakai kata 'berkah' karena... ya... begitu deh. Kutukan-nya, tentunya kembali lagi ke konsep 'tidur sebagai karunia' yang gw sebut di kata pertama di atas. Jika tidur itu karunia, gw yang sering kali kurang tidur ini bisa dikatakan kekurangan 'karunia' tersebut.

Tunggu sebentar. Gw? kekurangan tidur? ha ha.. some of you will laugh out loud on this. Tapi tunggu sebentar, sebagian besar orang punya jam tidur yang fixed. Yang tetap, terjadwal dengan sempurna di jam biologis mereka. Beda dengan gw, meskipun gw tidak pernah pergi keliling dunia, gw sering kali berada dalam kondisi jet-lag. Jam biologis gw kacau balau. Gw bisa tidur selama 14 jam sehari (that's my current record, yes) kalau tidak ada gangguan sama sekali (sekali lagi, gw "susah tidur, gampang bangun") tapi sering kali gw cuma tidur selama 1 jam saja dalam durasi 24 jam. Hari ini misalnya, gw baru tidur 2 jam, and here i am, with my second cup of coffee for this morning only, writing this entry. Jadi, gw rasa cukup adil dan beralasan kalau gw bilang, gw ini kekurangan tidur. Tambahkanlah kata sehat di belakangnya menjadi "gw ini kekurangan tidur yang sehat" biar lebih terasa empasis-nya.

Ada dua hal yang paling gw tidak suka dalam kaitannya dengan tidur. Satu, ketika gw terbangun dari mimpi. Seperti yang gw alami pagi ini. Para ahli sudah menyimpulkan bahwa mimpi terjadi ketika kita sedang dalam kondisi tidur REM (Rapid Eye Movement). Pada saat REM, kondisi tubuh akan kontradiktif dengan definisi tidur nyenyak. Dalam semalam, manusia normal akan mengalami 4 - 6 REM dengan tidur yang benar-benar dikategorikan sebagai tidur nyenyak di antara masing-masing fase REM tadi. Nah, ketika gw terbangun dari mimpi, terhentak dengan paksa dari REM, gw selalu akan merasa segar seperti sudah tidur selama 6 - 8 jam. Padahal kenyataannya kalau gw lihat jam, gw pasti akan menggerutu, "shit.. baru jam sekian!". Pernah bahkan suatu hari, belum lama berselang, gw baru tidur 10 menit, terbangun dari mimpi dan kemudian terjaga selama 7 jam sebelum bisa tertidur kembali. And that's very much annoy me. Tapi gw tidak bisa melakukan apa-apa terhadapnya. Sekali waktu, tanpa bisa terprediksi, kejadian itu pasti datang lagi, seperti tamu yang tak diundang, un-wanted but always come in dire times.

Yang kedua, disorientasi gw yang kedua tentang tidur ini berkaitan dengan entri gw berikutnya.

Anger Management: Analyze This

Pernah benar-benar marah sampai nggak bisa ngomong apa-apa? Kalau iya, apa yang akan kaulakukan? Ini cerita gw ketika gw benar-benar merasa marah. Kejadiannya pun belum lama berselang.

Di entri sebelumnya gw sudah menyebutkan satu dari dua hal yang tidak gw suka kalau sedang tidur. Nah yang kedua, adalah tentu saja ketika gw terbangun dengan paksa gara-gara suara yang tidak bersahabat sama gw, suara-suara yang tidak gw inginkan. Ketika itu, gw baru tidur selama satu jam setelah malam sebelumnya gw terbangun dari REM setelah hanya 10 menit gw memejamkan mata. Ditambah lagi, malam sebelumnya gw baru pulang jam 12 malam. Nah ketika pagi itu tiba-tiba pintu kamar gw diketuk, gw merasa benar-benar terganggu dan ketika gw buka, kehadiran seorang teman gw yang sama sekali tidak gw inginkan datang. Di antara teman-teman gw yang lain, this guy is the least expected person to disturb me. Bisa dimaafkan sih, mengingat dia tentu tidak se-faham teman-teman gw yang lain. Tapi hari itu entah kenapa setiap apa yang ia lakukan terlihat salah di mata gw, setiap apa yang ia lakukan menggelitik rasa marah gw. Dan saat itu, rasa marah gw adalah makhluk yang paling sensitif sama geli. Akhirnya di tengah rasa marah gw, yang gw berusaha sebisa mungkin untuk gw penjara, gw memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Mau tahu rute gw? Pokus, Depok - Pondok Indah - Blok M - Glodok - Gramedia, Depok - Pokus, Depok. Dan selama itu gw merasa bener-bener bisa tidur berdiri. Terutama saat naik kereta dari Kota - Depok. Tapi gw rasa itu jalan yang terbaik, daripada gw di kos harus menghadapi dia di tengah usaha gw untuk menggembok si rasa marah yang pasti akan segera bebas seandainya terus digelitik, gw pergi jalan-jalan, dan belanja. O yes, i spent almost 400 thousand rupiahs in that day. What a feast, what a costy anger management. Tapi cukup berhasil, bahkan gw ragu-ragu kalau misalnya gw membayar psikiater untuk melakukan anger management yang mungkin malah lebih mahal daripada biaya gw hari itu akan seberhasil anger management yang gw lakukan. Tapi gw ga ingin marah2 lagi ah, mahal.

Monday, February 14, 2005

Screening Log Column #6

Babblings:

Gw membaca salah satu artikel tentang otak. Dari situ, gw mengambil kesimpulan kalau cara berpikir gw itu sangat-sangat visual, non-linear, dan multi-purpose (terutama dalam hal 'tujuan') yang kesemuanya merupakan fungsi otak kanan (simptom yang paling sederhana, mana yang lebih mudah buatmu. Mengingat nama orang atau wajah? Kalau gw, jelas wajah. Gw sering ketemu teman yang gw bener-bener lupa namanya tapi ingat betul sama raut wajahnya. Dan lebih jauh lagi, gw bisa mengidentifikasi 4 dari 5 mahasiswa FISIP UI. Hah hah, gw melebih-lebihkan tentu saja). Dari artikel itu pula gw melihat bahwa si penulis artikel merekomendasikan untuk menjadi seorang seniman, pelukis (honest, i once had a hunch to bought myself a canvas and start painting anything that comes to mind, but it was so expensive i rather bought a paperback instead), atau musisi. Sedangkan seorang penulis, direkomendasikan untuk mereka yang lebih dominan otak kirinya.

Informasi ini gw simpan baik-baik. Dan lantas gw bandingkan dengan keadaan gw yang sesungguhnya. Selama ini, ide datang dan pergi secara visual di benak gw. Bahkan lewat mimpi yang selalu gw ingat setiap bangun tidur (bukan cuma satu, tapi sering kali dua mimpi gw di malam sebelumnya bisa gw ingat di pagi hari). Tapi ketika mencoba menterjemahkan informasi visual itu ke dalam bentuk verbal, gw seperti mendaki dinding batu dengan kemiringan sembilan puluh derajat setinggi ratusan meter tanpa bantuan apa pun. Sulit. Benar-benar sulit. Padahal sayang sekali jika ide-ide visual yang mampir di otak gw itu dilewatkan begitu saja, atau gw nikmati sendiri. But hell no! i'm going to keep writing until i received my very first declination note sent by the publisher.

Weekend U.S Box Office (Feb 11 - 13):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Hitch - US$ 45.3 mills - US$ 45.3 mills
2. - Boogeyman - US$ 10.8 mills - US$ 33.3 mills
3. - Are We There Yet? - US$ 8.5 mills - US$ 61.5 mills
4. - Million Dollar Baby - US$ 7.58 mills - US$ 45 mills
5. - Pooh's Heffalump Movie - US$ 6 mills - US$ 6 mills
6. - The Wedding Date - US$ 5.6 mills - 19.5 mills
7. - Hide and Seek - US$ 5.55 mills - 43.5 mills
8. - Sideways - US$ 4.75 mills - US$ 53 mills
9. - The Aviator - US$ 4.63 mills - US$ 82.2 mills
10. - Meet the Fockers - US$ 3.4 mills - US$ 269.9 mills

Will Smith meskipun memulai karir akting sebagai bintang utama sitkom "The Prince of Bel-Air" tidak pernah membintangi film feature bergenre komedi. "Prince of Summer" ini selalu membawa sukses yang menggiurkan bagi film-film yang dibintanginya karena memang selalu laris dan sukses. Sebut saja "ID-4", "I, Robot", atau "MIB". Pun begitu, film-film tersebut genrenya selalu fantasi menjurus ke aksi CGI. Hitch mungkin merupakan film komedi romantis pertamanya. And man how he'd succeeded at that. Hitch, yang mengisahkan kisah seorang konsultan percintaan (matchmaker) yang diperani oleh Will Smith, Eva Mendes dan disutradarai oleh Andy Tennant yang sukses membawa "Sweet Home Alabama" ternyata bisa merebut pencinta film di U.S sono dengan merajai box-office dengan perolehan 4 kali lipat dari saingan terdekatnya, thriller Boogeyman. Agaknya nama Will Smith memang masih menjadi jaminan. Film baru lainnya, Pooh's Heffalump Movie tidak akan gw bahas mendalam di sini. Toh, dia cuma another Winnie the Pooh's cartoon, yang mungkin hanya memuaskan penonton anak-anak atau hardcore fans dari Winnie the Pooh. And i was neither.

Later this week, we see Because of Winn-Dixie, Constantine, dan Son of the Mask. Dari forum-forum, gw bisa menyimpulkan penonton Indonesia really anticipating Constantine, sebuah adaptasi komik tentang seorang anti-hero, John Constantine yang diperanin oleh Keanu Reeves. Well, i didn't like Keanu Reeves at all. Tapi trailernya kelihatannya cukup menjanjikan. Film ini juga sudah masuk di Indonesia (http://www.21cineplex.com) meskipun tampaknya baru akan midnight pada tanggal 26 Februari nanti.

Tentu masih ingat sama The Mask, film konyol (yet another adaptation of comic) yang diperanin oleh Jim Carrey. Son of the Mask cukup punya kualifikasi untuk disebut sebagai sekuel-nya. Sesuai judulnya, The Mask diceritakan punya 'anak'. Bagaimana alur logisnya, gw sendiri pun masih meraba dalam gelap. Because of Winn-Dixie adalah satu lagi adaptasi dari cerita yang diangkat ke film. Dan itu melengkapi 100% film adaptasi yang akan dirilis minggu ini. Bercerita tentang persahabatan seorang gadis cilik dengan seekor anjing yang ia temukan terlantar di sebuah supermarket. Dari tema-nya tentu saja ini akan menjadi sebuah film keluarga yang bakal mengharu biru. Apalagi tokohnya seorang gadis cilik (7-10 yrs old) dan seekor binatang.

From the Screening Log:

Screening Log hanya melihat tiga film minggu ini meskipun ada libur selama lima hari. Assault on Precinct 13 versi asli. Sesuai kebiasaan, gw mencoba untuk menonton atau membaca karya asli dari sebuah film yang diangkat sebagai remake atau adaptasi darinya. Dan karena di tahun 2005 ini, film Assault on Precinct 13 di-remake, maka gw mencari dan kemudian menonton film aslinya. As expected, filmnya lame, tapi kasar. Austin Stoker sebagai tokoh utama anti-hero di film ini tampil luar biasa. Dan suasananya, feelsnya juga dapet. Mencekam. Walaupun adegan penyerbuannya sangat bapuk (wajar mengingat ini film dibuat tahun 70-an), satu hal yang membuat gw kagum adalah adegan aksinya yang kasar tanpa koreografi. Tidak wah, bahkan mungkin bisa ditertawakan tapi tetap memberikan nuansa indah yang unik. Body count: 6 Police Officers, 1 Telephone Service-Man, 2 Convicts, 1 Civillian, 40-50 Thugs.

Jackie Brown. Gw pernah menyinggung film ini sebelumnya. Dan memang, ini adalah kali ketiga gw nonton film ini. Filmnya lambat, dan lama (dua setengah jam) tapi tidak membuat gw mengantuk. Dialog-dialog khas Tarantino, karakter-karakter yang lovable (si gila Samuel L.Jackson, si misterius Robert Forster, si dungu Robert De Niro, si penggoda Bridget Fonda, si ambisius Michael Keaton, dan tentu saja si cerdas Pam Grier) dimainkan tanpa cela oleh para aktor-aktrisnya. Dibuka dengan dialog tidak penting (sekali lagi, ciri khas Tarantino) tentang macam-macam senjata oleh Samuel L.Jackson, yang paling menarik dari film ini adalah tidak ada karakter yang under-developed. Semuanya (bahkan Bridget Fonda yang nyaris sepanjang film memakai bikini) di bangun dengan serius oleh QT. Dan ini yang membuat film ini sangat-sangat menarik dan tidak membosankan buat gw, and clearly it was QT's best shot meskipun tidak sukses. Body count: 4.

Shark Tale. Semenjak pertama kali film ini keluar, gw tidak mengharapkan banyak dari film ini. Pertama, desain karakter-nya yang sama sekali tidak lucu dan kedua, review-review yang tidak sanggup mengangkat popularitas film ini, dan ketiga, Finding Nemo. Ya, karena dihajar cukup telak oleh Finding Nemo dan sama-sama membawa dunia bawah laut. Ekspetasi gw menjadi kenyataan, selain parodi dari film-film dewasa yang sudah berumur (gw yakin kalian juta sedikit mengetahuinya :)) seperti Scarface, Appocalypse Now, Godfather, The Untouchables, Jaws, Seabiscuit, sampai Titanic (lukisan Kate Winslet), nyaris tidak ada yang menarik dari film ini. Bahkan cameo-cameo dan soundtrack yang catchy tidak sanggup melegakan kepenatan gw akibat terlalu bosan sama film ini. Penyelesaian masalahnya terlalu sederhana. Simple talks, (bla bla bla and everybody's happy) dan tema yang sedikit 'dewasa', film ini malah jatuh di kebingungan antara menjadi film yang menarik penonton dewasa (which is not) atau film untuk anak-anak (which is definitely not). Gw menilai, bisa atau tidaknya seseorang menikmati film ini diukur dengan bisa atau tidaknya mereka menemukan referensi terhadap film-film klasik dewasa yang diparodiin di film ini.

Friday, February 11, 2005

Clint Eastwood

Quote: "I bow down to you. You are a talent beyond compare. If I'm half the person you are and half the talent you are when I'm 74, I will know that I've accomplished something great." -- Hillary Swank ketika menerima SAG Award kategori Best Actress kepada rekan mainnya dan sutradara dalam film "Million Dollar Baby" (6 Februari 2005).

Komentar bombatis itu datang dari seorang Hillary Swank. Aktris yang kemampuan berakting dan totalitasnya dalam seni peran telah membuahkan penghargaan SAG (Actors Guild) sebagai aktris terbaik di tahun 2004 lewat perannya sebagai seorang wanita berotot di "Million Dollar Baby". Penghargaan ini juga melengkapi penghargaan Hillary Swank setelah sebelumnya ia mendapatkan Golden Globe juga lewat film yang sama dan menjadikannya sebagai kandidat serius untuk merebut piala Oscar untuk aktris terbaik akhir Februari ini.

Jadi tentu saja komentar bombatis yang datang dari seorang aktris yang sudah diakui terhadap rekan kerjanya tentu bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng.

Saya mengenal nama Clint Eastwood nyaris bersamaan dengan waktu saya berkenalan dengan film yang berarti sekitar tahun 1988 - 1989. Waktu itu saya sebagai seorang newbie di dunia film langsung bisa mengasosiasikan nama Clint Eastwood lewat peran-perannya di film Western. Meskipun baru beberapa tahun kemudian saya berkesempatan untuk menonton "Unforgiven" (1992), yang memberinya penghargaan Oscar sebagai Best Director, dan baru di tahun 2004 saya menonton film western pertama yang mengangkatnya ("A Fistful of Dollar"), nama Clint Eastwood sudah terlanjur melekat dengan topi koboi, bot bergerinda, dan revolver enam peluru.

Selanjutnya, tentu saja "Dirty Harry". Film yang buat saya waktu itu sangat fenomenal karena penggunaan profanity-nya, dan kekerasan dari seorang penegak hukum. Oh ya, saya memang sudah diijinkan untuk menonton film apa saja, dan bangun sampai pukul berapapun meskipun saya masih SD oleh orang tua saya (i love you, guys) dan itu tentu saja bertanggung jawab untuk membentuk diri saya yang sekarang ini (coffee-addict, movie-lovers, and insomnia).

Sebenarnya saya tidak pernah menganggap Clint Eastwood sebagai aktor yang bagus. Betul kalau dia memang punya evil grin yang meyakinkan, Dirty Harry pun bisa melekat dengan sempurna sampai saya tidak bisa mengasosiasikan orang lain sebagai Inspektur Harry Callahan. Dan sampai film keempatnya di tahun 80-an, "Sudden Impact", Dirty Harry telah berhasil membuat saya memimpikan bagaimana rasanya meledakkan Magnum ke kepala orang (ah well, when we're young, we wanted everything, rite?, after all, i'm only 9 - 10 years old at the time). Pada intinya, sampai sekarang jika ada yang menyebut nama "Clint Eastwood", saya selalu teringat film-filmnya Sergio Leone, dan Dirty Harry, dan selalu bisa membayangkan Clint Eastwood sebagai koboi dengan pistol terhunus, rokok di ujung mulutnya, dan disampingnya, Clint Eastwood sebagai seorang inspektur, dengan jas warna abu-abu dan celana yang senada, evil grin, dan Magnum terhunus. Dan sampai tahun 2003, hanya itu yang bisa saya bayangkan tentang Clint Eastwood.

Di tahun 2003, saya mulai serius menyukai film. Saya mulai memilih-milih film bukan lagi berdasarkan genre ataupun aktor-aktris-nya. Saya mulai memilih film berdasarkan nama sutradara dan screen-writer-nya. Maka saya heran begitu Mystic River, film yang disutradarai oleh Clint Eastwood mendapat review yang bagus dan bahkan masuk nominasi Oscar di tahun itu.

Saya penasaran. Akhirnya beberapa bulan kemudian saya berkesempatan untuk menonton film itu. Dan ya, untuk pertama kalinya saya melihat Clint Eastwood bukan sebagai boneka Sergio Leone, dan bukan pula sebagai Inspektur Harry Callahan. Saya langsung suka sama Mystic River. Kedalaman ceritanya, twist-nya, karakterisasi pemain2nya. Tapi terlebih, karena memang waktu nonton pertama kali saya ingin melihat Clint Eastwood, saya merasakan 'shot-shot' misteriusnya yang membawa Mystic dari Mystic River itu sendiri. Saya bahkan tidak bisa menggambarkan dengan kata-kata. Tapi terutama saya suka waktu Sean Penn berteriak dikerubuti polisi, juga adegan karnaval di terakhir film, dan tentu saja jalan tempat rumah karakter Sean Penn berada. It was magical and mysterious in some kind of weird way. Sayangya, waktu itu Clint harus mengalah sama PJ yang menyelesaikan trilogi The Lord of the Rings-nya di tahun itu.

Lalu kita sampai di Million Dollar Baby. O yea, dengan nuansa misterius yang sama, saya juga langsung jatuh cinta sama Hill.. eh, filmnya. Terlebih penampilan Hillary Swank yang serius, all-out, sampai dari aksen cara ngomongnya saja kita sudah bisa percaya banget kalau Fitzgerald (tokoh yang diperanin olehnya) tidak punya keinginan apa-apa selain menjadi petinju dan memiliki tingkat intelejensi yang rata-rata. Saya benar-benar angkat jari untuk Hillary Swank di film ini. Bahkan di sepertiga film terakhir kita bisa benar-benar tertarik ke karakter Fitzgerald ini, bisa memposisikan di posisinya yang menghadapi redup terakhir dari cahaya harapannya, dari hidupnya. Tapi tentu saja, tanpa Clint Eastwood, saya rasa akan beda rasa misteriusnya, akan beda cara kita menangkap kegigihan dan kegetiran Fitzgerald yang ditampilkan oleh Hillary Swank di film ini. Wajar kalau nanti (February 27th) dia diganjar Oscar untuk sutradara terbaik. Tapi tetap saja, saya masih tetap ingin Martin Scorcese yang membawa pulang patung emas itu.

All in All, Clint Eastwood, dengan 50 tahun pengalaman di dunia film tetap menjadi salah satu legenda film. But i still could see him as one of Sergio Leone's puppet or Dirty Harry.

Monday, February 07, 2005

Screening Log Column #5

Babblings:

Writing is a damn full time job. Tidak seperti menulis jurnal semacam ini yang bisa gw tulis sambil lalu, nulis fiksi bener-bener butuh konsentrasi dan suasana yang tepat dan buat gw, suasana yang tepat adalah suasana yang tenang, tanpa ada suara apa pun selain inspirasi gw yang membalik-balik cerita di benak gw. If you see me now, gw lebih sering menutup pintu kamar gw, bahkan menguncinya. Padahal sebelumnya, jam tiga pagi pun pintu kamar gw selalu terbuka untuk menerima 'tamu'.

So, chapter one is up.
Chapter 01.

Mind you, chapter satu di atas inspirasinya baru datang hari Sabtu kemaren. The original chapter one was pushed back to chapter three after I added two chapters as a prelude. Gw udah dapet topik permasalahannya, karakter-karakter protagonisnya. Cuman masalahnya gw masih belum bisa menentukan bagaimana karakter-karakter protagonisnya menyelesaikan masalahnya. Ah, it will kicked in sometime soon, .. i hope ..

Weekend U.S Box Office (Feb 4 - 6):
#. - Title - Weekend Gross - Cumulative Gross
1. - Boogeyman - US$ 19.5 mills - US$ 19.5 mills
2. - The Wedding Date - US$ 11 mills - US$ 11 mills
3. - Are We There Yet? - US$ 10.4 mils - US$ 51.05 mills
4. - Hide and Seek - US$ 8.9 mills - US$ 35.7 mills
5. - Million Dollar Baby - US$ 8.77 mills - US$ 34.6 mills
6. - The Aviator - US$ 5.44 mills - US$ 75.9 mills
7. - Meet the Fockers - US$ 5 mills - US$ 265.3 mills
8. - Sideways - US$ 4.8 mills - US$ 46.8 mills
9. - Racing Stripes - US$ 4.42 mills - US$ 40.5 mills
10. - Coach Carter - US$ 4 mills - US$ 59.5 mills

Minggu ini, Amerika disibukkan dengan Superbowl. Tapi, thriller 7 juta dolar Boogeyman berhasil meraih 19 juta dolar dari opening weekend-nya. Bersama film baru lainnya, The Wedding Date yang terang-terang ditujukan ke penonton cewe berhasil merajai dua besar box-office minggu ini. Jawara minggu lalu, Hide and Seek malah turun ke peringkat ke-4.

Later this week, two movies shall be up. Hitch, featuring Will Smith as a matchmaker. Dan satu lagi Pooh's Heffalump Movie. Nothing interesting in the movie except that every citizen of Hundred Acre Wood participating in it. Ada satu lagi film yang sudah dinikmati di Indonesia tapi dibuka secara limited di U.S sono, spin-off dari Jane Austen's Pride and Prejudice, Bride and Prejudice. Tapi karena kolom ini spesifik untuk film-film rilis wide, I shall let it slide for another screening session.

From the Screening Log:

Minggu Oscar. Oh yeah, Screening Log memulai minggu ini dengan film thriller standar, The Forgotten . Tentang seorang ibu (Julianne Moore) yang percaya bahwa anaknya masih hidup sementara orang-orang disekitarnya tidak ada yang ingat bahwa si ibu ini pernah punya anak. Instingnya sebagai ibu tidak mau menyerah begitu saja dan ia mencari kebenaran tentang anaknya sampai ketika ia dihadapkan pada kenyataan yang mengejutkan. Julianne Moore tidak cukup menarik dan tidak cukup meyakinkan sebagai seorang ibu yang percaya bahwa anaknya masih hidup. Dan mungkin itu yang membuat film ini tidak sebagus dan semenarik yang disodorkan oleh premisenya. Kenyataannya juga terlalu sci-fi untuk bisa dijelaskan dalam waktu 10 menit.

Empat film berikutnya, Screening Log menyaksikan film-film yang punya nominasi di Oscar. Dimulai dari Ray . Film semi biografi tentang Ray Charles Robinson ini segera menjadi film favorit gw. Dengan musik R&B yang kental (i love R&Bs), film yang panjangnya nyaris dua setengah jam ini menarik untuk diikuti. Terlepas dari kecenderungan screen-writer-nya untuk menulis film ini dengan penyesuaian terhadap diskografi-nya Ray, sejak awal konsentrasi gw memang sudah terpaku pada Jamie Foxx. After all, he had a Golden Globe award on this movie and a serious contender for the Academy next February 27th. And he delivers.. o yea, he delivers. Potret-nya sebagai seorang jenius musik dengan segala keterbatasan fisiknya sungguh menarik dan meyakinkan untuk disimak. Terlebih lagi, tidak seperti orang-orang buta yang dipotretkan oleh sinetron-sinetron Indonesia, Ray Charles sama sekali bukan orang suci. Di satu titik, dia bahkan mengolok-olok Tuhan. Jamie Foxx is definitely a center of attention here. Tapi, tak urung gw juga suka penampilan nyokap-nya Ray kecil - walaupun ia tampil di beberapa adegan kecil - yang bener-bener convincing dan menyedihkan. If you love good drama and good R&B's, watch it.

Next, Being Julia, featuring Annette Bening sebagai nominasi Oscar untuk aktris terbaik favorit. Bersetting di London tahun 1930-an, Julia adalah aktris teater yang paling populer saat itu. Filmnya sendiri jelas dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, 50 menit pertama bener-bener boring luar biasa. Menceritakan kisah Julia yang merasa bosan dengan kehidupannya sebagai aktris teater dan memutuskan untuk berhenti saja sampai ia berkenalan dengan seorang pemuda Amerika (a gold-digger, if you familliar with the term) dan dari dia ia menemukan seks dan inspirasi yang membuatnya memberikan penampilan terbaik di teater dan jatuh cinta kembali kepada teater. Suaminya, seorang produser teater mengetahui affair tersebut tapi ia tidak peduli selama istrinya bisa tetap menampilkan penampilan terbaik di teater. Kalau tidak karena Annette Benning yang so gay and so fun to watch, gw udah pasti tertidur karena bosan. Tapi, bagian keduanya, 45 menit terakhir, was sooo powerful. Ketika pemuda Amerika selingkuhan Julia tidak lagi tertarik kepada Julia dan justru malah merekomednasikan aktris muda kekasihnya untuk bermain di drama terbaru Julia. Di luar dugaan, Julia merekomendasikan aktris muda tersebut ke suaminya - aktris muda yang ini ternyata juga berselingkuh dengan suaminya - untuk dimasukkan ke drama terbaru mereka. Dan kemudian, Julia membalaskan dendamya kepada semua orang di stage terakhir, pementasan terakhir dari Being Julia. Annette Bening has all the spotlight in the movie.

After that, Finding Neverland . Drama romantis, sedikit fantastis tentang J.M Barrie, the man behing Peter Pan. J.M Barrie (Jhonny Depp) adalah seorang penulis teater (gosh.. another theatre?) yang sedang berada di titik terendah karirnya. Sampai ketika ia bertemu dengan seorang janda, Sylvia Davies (Kate Winslet) dengan keempat anak laki-lakinya. Segera Barrie menjadi paman favorit dari keempat anak tadi, dan sepanjang petualangan mereka, J.M Barrie mendapat inspirasi untuk kemudian ia tuangkan di sebuah teater paling terkenal dari Barrie, "Peter Pan". Ceritanya indah, dengan perpaduan antara fiksi (Neverland) dan realita yang walaupun sedikit tersendat tetap menarik. Jhonny Depp tidak seflamboyan ketika di Pirates tapi tetap memberikan energi yang luar biasa dari penampilannya. Dan Kate Winslet tampil kuat seperti biasanya (she's a good actress, really good). Walaupun fakta-fakta yang merupakan aib bagi Barrie disembunyikan (isunya, Barrie adalah seorang pedofil), "Finding Neverland" tampil sebagai cerita yang "safe", nggak berlebihan, dan cukup punya emosi antara drama, fantasi, sampai tragedi. Tidak ada yang kurang di film ini, meskipun juga tidak ada yang lebih dari film ini.

The last one, Million Dollar Baby . Film ini nyaris sama seperti Rocky, jika tidak ada twist di menit ke-93. Seperti Rocky, Million Dollar Baby menitik beratkan pada Maggie Fitzgerald (Hillary Swank) seorang wanita berumur 30 tahun-an yang ingin bertinju. Dia menginginkan Frankie (Clint Eastwood) untuk menjadi manajer dan pelatihnya. Frankie sendiri adalah seorang manajer yang 'safe'. Dia terlalu concern kepada petinjunya sehingga jarang mengambil resiko untuk mengadu petinjunya dengan juara dunia karena ia khawatir akan berakibat buruk untuk petinjunya. Hal ini membuat ia ditinggalkan oleh petinju-petinju asuhannya yang justru menjadi juara dunia. Pada awalnya, Frankie tidak mau melatih Maggie. "I dont train girls". Tapi, dedikasi Maggie lama-lama menggerakkan Frankie dan kemudian jadilah Maggie seorang petinju wanita yang ganas. I leave the twist for you to enjoy. Filmnya lumayan bagus, lepas dari fakta bahwa "i'm a sucker for a sport movie", kalau dibandingin sama Rocky (yang menang Oscar di tahun 1970-an), Million Dollar Baby buat gw jauh lebih gelap, lebih kelam dan lebih bagus tentu.

Sebelumnya, gw menjagokan Hillary Swank untuk meraih Oscar Aktris Utama terbaik. Tapi setelah melihat Being Julia dan Million Dollar Baby, gw sekarang menjagokan Annette Bening. Alasannya, jika di Million Dollar Baby, gw lebih tertarik kepada bagaimana cerita membawa karakter Hillary Swank, di Being Julia gw lebih tertarik kepada bagaiaman karakter Annette Bening membawa cerita. Dari situ sendiri sudah bisa disimpulkan siapa yang menjadi center-of-attention dan siapa yang lebih bisa membawakan tanggung-jawab untuk mengantarkan cerita. Lagipula di Million Dollar Baby, cerita tidak melulu berkonsentrasi pada Maggie. Ada banyak side-story, cerita si tua Morgan Freeman, cerita si Frankie dengan putrinya, cerita si Maggie dengan keluarganya, dan cerita tentang seorang petinju bernama Danger. Intinya Hillary Swank tidak melulu mendapat spotlight di Million Dollar Baby. Beda sama Annette Bening di Being Julia.

So, that's a wrap. Tinggal nonton The Aviator sama Sideways.