Sunday, June 26, 2005

Batman Begins (2005)

United States, 2005
Cast: Christian Bale, Michael Caine, Liam Neeson, Morgan Freeman, Katie Holmes
Director: Christopher Nolan
My Rating: **** / ****

Superhero yang lain minggir dulu, Batman sudah datang! Tidak lagi sebagai Cape Crusader, pahlawan bertopeng hingar bingar, tapi sebagai imej aslinya Dark Night yang cuma beraksi kalau malam dan menurut gw, secara psikis paling dekat dengan penjahat sehingga sewaktu-waktu (paling tidak sudah dieksploit di komiknya) bisa dengan mudah menjadi seorang penjahat.

Bukan Prekuel!
Banyak yang beranggapan bahwa Batman Begins ikut2an trend dengan membuatnya sebagai sebuah prekuel dari serial film yang dimulai oleh Burton di thn 1989. Tapi, Warner Bros. ternyata memang mematikan franchise Batman yang telah sukses dihina oleh Joel Schumacher lewat Batman & Robin (duh! horrendeous! kostum Batman dan Robin-nya berputing!). Boleh dibilang franchise Batman yang sudah menghasilkan 4 film sebelumnya di-reboot dan dimulai dari awal sebagai Batman Begins.

And in my opinion, film ini gw sebut sebagai film superhero terbaik yang pernah dibuat. Spider-Man? X-Men? they're not good enough. Dan gw punya James Berardinelli, Roger Ebert yang mem-back-up opini gw. This was indeed the best superhero-narrative.

Where it all begins
Film Batman Begins berada di ekstrem yang jauh berbeda dengan film Batman sebelumnya (utamanya, dua film Batman karya Joel Schumacher, Batman Forever dan Batman & Robin). Di film2 Batman tersebut kita disuguhi banyak aksi-aksi hi-tech yang memang jadi spesialisasinya Batman dengan porsi CGI yang sangat besar. Namun di Batman Begins, Chris Nolan meminimkan penggunaan CGI sehingga semuanya terlihat sangat natural. Jangan harap melihat Batman berseliweran di kota Gotham selayaknya Spider-Man mengitari gedung-gedung kota New York. Acap kali Batman digambarkan oleh Chris Nolan cuma sebagai sekelebatan bayangan hitam saja. Dan itu memang esensi Batman. Stealth, musuh yang tak terlihat adalah musuh yang paling mengerikan. Ada alasannya dia memakai kostum hitam dan hanya beroperasi di malam hari. Jadi kalau kita tarik kembali ingatan kita ke dua film Batman sebelumnya, kehadiran Batman selalu disertai dengan kemeriahan yang mencoreng esensi Batman sebagai Dark Knight. Sementara di Batman Begins, kehadiran Batman nyaris seperti Jaelangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar. Bwet, bwet.

Sebagai awal dari sebuah franchise, Batman tidak langsung muncul sebagai Dark Knight. Kita melihatnya selama beberapa puluh menit awal sebagai Bruce Wayne yang menyaksikan ayah ibunya mati ditembak garong lokal pas masih berumur 8 tahun, dan kemudian kembali jadi Batman 20 tahun kemudian. Menit-menit awal menceritakan apa yang dilakukan Bruce selama rentang waktu tersebut. Kita melihat Bruce di penjara Cina 'berlatih' menghadapi tujuh orang napi, bertemu dengan Henri Ducard (Liam Neeson), Ra's Al-Ghul (Ken Watanabe) tokoh2 misterius yang punya pengaruh sangat besar di dunia DC. Bahkan Ra's Al-Ghul, walau tidak diceritakan di filmnya, adalah seorang immortal yang originnya bisa dilacak sampai jaman Neanderthal. Dia yang menyebabkan Konstantin dan Roma runtuh, dia yang berada dibalik kedigdayaan Jenghis Khan. Pokoknya setiap kejadian penting dunia selalu ada Ra's Al-Ghul yang berada di belakangnya. Dan di sini, dia juga berada di belakang transformasi Bruce Wayne - Batman.

Selain itu, semua terminologi yang bakal muncul di film-film Batman berikutnya (remember, it's not a prekuel, it's a brand-new franchise), seperti penjara bagi penjahat-penjahat Gotham, Arkham Asylum, pembangunan Bat-Cave, siapa orang-orang yang ada dibelakang Batman, siapa yang membangun teknologi yang dipakai oleh Batman termasuk Bat-Mobile, Bat-arang, sabuk-nya yang terkenal itu, dan Pak Gordon, polisi yang nantinya juga berperan besar dalam salah satu episode terkelam Batman (kalau dijadikan film mungkin bakal ada di film ke-4). Pendeknya inti dari film ini adalah Begins. Dimana semua hal yang berkaitan dengan Batman dimulai dari awal.

Why this film was best
Christian Bale itu buat gw kaya Daniel Day-Lewis. Aktor yang bagus, tapi masih idealis. Dia pilih-pilih peran dan totalitas-nya bener-bener luar biasa. Ketika maen di The Machinist (bisa ditemukan juga di sini), dia menurunkan berat badan sampai hanya tinggal walking-stick. Tapi kemudian segera setelahnya, di film Batman, dia naik 85 pon seperti terlihat di gambar. Bahkan lawan maennya saja meragukan apakah ia tidak terlalu kurus untuk menjadi Batman ketika mereka pertama kali melihatnya. Tapi pada akhirnya, totalitas keprofresionalannya berbicara. Pemeran Batman sebelumnya, Keaton, Kilmer, Clown-ey (baca; Clooney), dibantu oleh kostum untuk terlihat lebih berotot. Tapi buat Bale, dia sudah terlihat seperti Batman dengan bertelanjang dada seperti di samping.

Selain itu, perannya sebagai Bruce Wayne juga arguably the best. Dalam kisah Batman, Bruce Wayne adalah alter-ego dari Batman. Not the other way around. Dia harus bertingkah seperti seorang spoiled-rich-bachelor-guy ketika dia menanggalkan kostum-nya. Clown-ey sebenernya juga cukup punya kualifikasi menjadi seorang Bruce Wayne. Masalahnya, Clown-ey tidak berakting sebagai Bruce Wayne. Tapi dia secara alamiah adalah Bruce Wayne, sehingga tidak seperti Bale, dia tidak perlu berpura-pura bersikap sebagai seorang multi-milyuner. Sedangkan Bale paham betul bahwa sejatinya Batman adalah Batman dan Bruce Wayne adalah topeng dari Batman.

Aktor-aktor (gw tidak menyebut aktris) yang mendukung Batman juga tidak ada yang mengecewakan. Michael Caine, one of the best actor out there, meskipun sedikit terlalu gemuk untuk Alfred, tetep keren. Morgan Freeman (Lucius Fox), who would've doubt on him?. Liam Neeson (Ducard) yang untuk kesekian kalinya menjadi seorang mentor. Gary Oldman (Gordon) yang menyeberang menjadi sosok protagonis yang penampilannya membuat kita berpikir apa benar ia se'bersih' itu? (tunggu saja di film ke-4, *wink), dan tentu saja si Cillian Murphy penjahat kita, yang mmmhhhh.. cocok sekali menjadi seorang Scarecrow. Satu-satunya miss buat gw adalah Katie Holmes. Kehadirannya serasa tidak diperlukan. Entah dia itu sebagai "love interest"-nya Bruce Wayne / Batman yang meski demikian cuma evident di sepuluh menit terakhir (which is a relieve, since we only see the Hollywoodian kiss right on the end of the movie where everything has cooled down) tidak berhasil. Tidak ada chemistry cinta antara Bale dan Holmes sehingga tidak berhasil (sekali lagi untungnya cuma di sepuluh menit terakhir). Atau mungkin sebagai motivator dari Batman, yang juga sebenernya kurang, soalnya Batman gw lihat tidak butuh motivator. Di film ini, Gotham sudah jadi alasan dan motivasi yang sangat baik baginya. Apapun alasannya, Katie Holmes tidak diperlukan di film ini (i never never liked her anyway).

Untuk sutradaranya dan screenwriternya, tidak ada masalah. Chris Nolan lebih ngerti soal aksi daripada Tim Burton tapi lebih nggak neko-neko daripada Joel Schumacher. Dengan sudut kamera unik, editing yang baik, dan spesial efek yang alamiah (less on CGI, more on models and working gadget) membuat kita tidak lagi seperti melihat film kartun selayaknya film2 Batman-nya Joel Schumacher. Sebagai contoh adegan kejar2an dengan Bat-Mobile. Di film2 Batman sebelumnya, Bat-Mobile sangat superior sehingga ia bisa melakukan hal-hal yang muskil dan melawan gravitasi (berjalan secara vertikal ke atas?) sehingga berkesan seperti maen2 doang. Di sini, Bat-Mobile lebih terkesan nyata, sebuah tank dengan mobilitas sebuah sedan.

Epilog:
What a nice experience to finally back again on the screen. Di akhir film, gw berteriak puas, apalagi ketika Gordon mengatakan kepada Batman ada seorang penjahat yang meninggalkan identitas dirinya di crime-scene yang menunjukkan siapa musuh Batman berikutnya (musuh terbesar dan terberat Batman, yet).

Harapan gw sih, mudah2an screenwriter-nya (Goyer) dan tentu saja Christian Bale, Michael Caine akan kembali lagi untuk membintangi instalasi berikutnya. And i just wish, that they get rid of Katie Holmes, menikah saja sam Tom Cruise dan jadi ibu rumah tangga baik-baik. Speaking of which, Rabu ini film Tom Cruise yang paling baru, film yang disebut-sebut sebagai film Spielberg yang menggunakan CGI paling banyak. "War of the Worlds". Kaya gimana? tunggu full-report-nya Kamis ini atau Jum'at paling lambat.

P.S: Kalo diinget lagi di Batman & Robin, jika kostum Batman dan Robin punya puting, kenapa kostum Batgirl tidak ada putingnya?... hmmm...

Wednesday, June 22, 2005

Memorable Scenes (1)

Di setiap film tentu ada yang namanya adegan yang paling berkesa. Berkesan di sini bisa macem-macem, tergantung dari kondisi (mood) pada saat menerima stimuli adegan yang dimaksud dan lantas persepsi dari adegan itu sendiri. Mulai dari sini gw akan meng-capture adegan-adegan yang membuat gw terkesan dan tentu saja disertai alasannya.

Okeh satu dulu:
Image hosted by Photobucket.com
Adegan di atas yang membuat gw akhirnya suka sama Natalie Portman. Di film itu, Leon (1994) Natalie yang baru berumur 12 thn berperan sebagai Mathilda yang kemudian membuat akuintasi dengan seorang pembunuh bayaran. Adegan di atas terjadi kira-kira di menit ke-30 dan merupakan adegan di mana akhirnya Mathilda pertama kali masuk ke dalam lingkarannya si pembunuh.

Mathilda yang saat itu baru pulang berbelanja mendapati apartemen tempat keluarga-nya tinggal sudah carut-marut dan terlihat di sebelah kiri seorang laki-laki bersenjata berjaga. Laki2 itu adalah polisi, dan ruang yang dijaga oleh laki2 tersebut adalah apartemen Mathilda. Mathilda hanya bisa menangis sesenggukan ketika melirik ayahnya yang sudah terkapar di lantai apartemen tersebut dan alih-alih berbelok masuk ke apartemennya, ia berjalan terus ke apartemen si pembunuh. Gw suka banget sama adegan ini, soalnya walaupun si Mathilda ini tidak lagi punya cinta sama keluarganya (dia dipukuli, terlihat dari mukanya yang lebam) tetap saja bagi seorang gadis muda, kehilangan keluarganya akan memberikan dampak yang tidak menyenangnkan. Beautiful.

Sunday, June 19, 2005

Ran (1985)

Japan, 1985
Cast: Tatsuya Nakadai, Akira Terao, Jinpachi Nezu, Mieko Harada
Director: Akira Kurosawa
My Rating: ***** / **** (that's true, 5 out of 4 stars!)

Ini adalah salah satu film yang membuat gw mencintai film. Segala aspek di film ini dieksekusi dengan penuh emosi. Gw sampai lupa waktu, lupa kalau waktu nonton gw sebenenernya sangat kecapean dan sudah terjaga selama hampir 20 jam. Serasa hanya ada gw dan film ini.

King Lear
Sebelumnya, film favorit gw dari bapak Kurosawa ini Ikiru dan Throne of Blood. Dan film ini, precedes the two. Selain karena filmnya berwarna (elemen yang ga penting sebenernya, tapi seperti di Dreams, kehadiran warna membuat film Kurosawa jadi agak berbeda), filmnya juga merupakan fusi sempurna dari Ikiru dan Throne of Blood.

Ikiru menceritakan seorang tua yang pengen melakukan sesuatu sebelum ia meninggal. Sementara Throne of Blood yang diadaptasi dari Shakespeare's Macbeth menceritakan kerserakahan manusia terhadap kekuasaan. Ran contains all the aspect.

Ran juga diadaptasi dari salah satu tragedi Shakespeare "King Lear". Hence, it was a tragic movie, with a tragic ends.

Seorang raja (Hidetora Ichimonji) yang merasa sudah tua, lengser dari kedudukannya sebagai the Great Lord. Dia membagi kekuasaannya kepada tiga orang anaknya (Taro, Jiro, Saburo) namun dengan syarat ia tetap retain his title as the Great Lord. Sedangkan kepemimpinan sehari-hari diserahkan pada anak tertuanya Taro. Mirip sama kedudukan Raja dan Perdana Menteri di jaman sekarang ini. Hidetora sendiri adalah seorang tokoh yang sangat berpengalaman, vicious in wars, pemimpin yang dihormati dan disegani. Namun jika sudah berhadapan dengan anak-anaknya, ia tidak lagi bisa melihat udang di balik batu. Instingnya dibutakan oleh cintanya kepada anak-anaknya sehingga ia yakin mereka tidak ada yang berbuat macam-macam. Hence, ketika kerajaannya sudah dibagi-bagi, dan sedikit ritual tentang love, putra bungsunya Saburo angkat bicara. Saburo tidak menyukai keputusan ayahnya yang terburu-buru menyerahkan kekuasaannya begitu saja. Pendapat Saburo ini didukung oleh salah satu jenderalnya Tango yang mengakibatkan keduanya (Saburo dan Tango) dibuang dari kerajaan Hidetora. Kesalahan yang fatal.

Seperti di Macbeth dan Throne of Blood, ada satu tokoh wanita yang sesuai dengan pendapat kuno "di balik kesuksesan dan kehancuran seorang pria, selalu terdapat seorang wanita", Lady Kaede. Dia memiliki dendam pada Hidetora dan ... seterusnya. Jalan ceritanya bisa ditebak sebenernya. Tapi inti dari film ini menurut gw tidak terletak pada jalan ceritanya, melainkan pada penokohan si Hidetora sendiri. Bagaimana ia kemudian melihat anak-anaknya memalingkan muka darinya, mengkhianati kepercayaannya, dan kemudian memerangi dirinya. Kehancurannya secara emosi lebih mengerikan daripada kehancurannya secara fisik. Dalam satu adegan yang sangat indah, captivating, entrapping, Hidetora berjalan terseok-seok melintasi barisan tentara. Dan sepertinya setiap langkah yang ia jalani, setiap kepingan dari kewarasannya terjatuh. Ngeri sekali. Gw hampir nangis ngeliatnya. Tidak ada yang bisa mengeksekusi adegan itu seindah Kurosawa. Why? baca sub-bab berikutnya.

Kurosawa: I Could Not Possible Directed Ran at an Earlier Age
Pada saat film ini dibuat, Kurosawa berumur 75 tahun. Sebelum Ran selesai, dia juga menghadapi berbagai masalah yang membuatnya berada di jalur yang sama dengan Hidetora... kehancuran emosi. Dia mencoba bunuh diri, nyaris buta, bangkrut, dan ada masalah juga dengan keluarganya. (Bisa dibaca selengkapnya di situs tentang Kurosawa. Where? Googling. It's easier than to remember the exact URL address). Pada intinya, kalau ada yang tahu apa yang dirasakan pak tua Hidetora yang tiba-tiba jatuh dari ketinggian, mungkin pak tua Kurosawa, sehingga pada akhirnya setiap adegan yang melibatkan Hidetora bisa benar-benar tragis (terutama adegan Hidetora yang menggali kuburnya sendiri di akhir film, atau adegan terakhir. Sakit). So i guess, thank you Kurosawa for make this tragic stroy into a really-really beautiful tragic cinema experience.

Epilog
Adegan favorit gw? buanyak banget. Tapi mungkin yang paling berkesan, yang sepertinya sanggup menghipnotis gw sehingga gw bisa bener-bener lupa waktu, adalah adegan "siege at the third castle". Adegan perangnya bener-bener menghanyutkan. Hanya ditemani suara musik yang melankolis-tragis, tanpa ada suara pedang beradu, panah berdesing, teriakan, atau slow-mo, setiap detik yang berlalu bener-bener merupakan one helluva cinema experience.... seandainya gw nontonnya di bioskop, gw yakin semua penonton (yang mencintai film tentunya) bakal terdiam, dan gw pasti udah berurai air-mata. Tidak pernah gw melihat adegan perang di sebuah film yang dieksekusi seindah itu. Perhatikan kata-kata gw: Tidak pernah. LOTR? Kingdom of Heaven? ah.. they're just the feast for eyes and ears.. not much left for the conscience.

Saturday, June 18, 2005

Raging Bull (1980)

United States, 1980
Cast: Robert deNiro, Joe Pesci, Cathy Moriarty
Director: Martin Scorcese
My Rating: **** / ****

Dari Wikipedia
Film noir is a stylistic approach to genre films forged in depression-era detective and gangster movies and hard-boiled detective stories which were a staple of pulp fiction. Film noir is based in large part on naturalism, a movement in literature based on realism. Film noir is French for "black film", and is pronounced accordingly ("fīlm nwahr"): the transliterated plural is films noir.

Raging Bull, menarik garis yang sama dengan tiga karya Scorcese sebelumnya, Who's That Knocking on My Door?, Mean Street, dan Taxi Driver. Pendeknya, film ini tidak indah, tidak ada suka di film ini, jadi siap-siap aja selama dua jam film ini tidak ada kata lagi yang lebih tepat untuk menggambarkan film ini selain "DEPRESI". Berat banget dah.

Jake LaMotta
Seperti yang gw singgung sebelumnya, ada paling nggak tiga film Scorcese sebelum Raging Bull yang mengusung tema noir yang sama dengan film ini. Jadi apa yang mau gw tulis di sini holds true with the previous three. Raging Bull merupakan film biopic dari seorang Jake LaMotta, petinju kelas menengah yang supposedly cukup terkenal (even though i never heard of his name, well, not that i into boxing, horrible sport, i must say) sampai lima kali melawan Sugar Ray Robinson (kalo ga pernah denger, kebangetah dah).

Sedikit mengingatkan pada Rocky eh? tentu tidak. Rocky adalah film drama yang uplifting, dengan happy ending, di akhir ceritanya. Yang nonton Rocky pasti senang di akhir ceritanya, dan sekali waktu bakal menyenandungkan lagu "Eyes of the Tiger". Tapi habis nonton Raging Bull? disarankan habis itu tidur, maen game, baca buku lucu, atau jalan-jalan. Film ini mulai dari soundtracknya, sinematografinya (shots entirely in black-and-white), alur ceritanya, tokoh-tokohnya, depresif banget. Boleh dibilang, film ini ada di kutub yang berlawanan dari Rocky.

Jake LaMotta adalah petinju kelas menengah yang supposedly jago berantem. Dia tahu kemampuannya, dan membuktikan kemampuannya. But something, something in his personality nail him in one place, stuck. Sampai ketika dia tidak memiliki lawan di ring profesional (semua orang takut padanya) namun dia tidak punya kesempatan untuk menjajal juara dunia. Simply because everybody (kecuali adiknya, Joe Pesci) didn't like him.

Gw tidak bisa menaruh kata yang tepat untuk personality dari seorang Jake ini. Mungkin gw akan ngembat istilah Freudisme "madonna-whore complex". Apa itu? Googling ;). Si Jake ini so drawn to himself, tapi yang ditekankan di film ini adalah bagaimana dia memandang seorang wanita yaitu -- mengacu pada madonna-whore complex -- sebagai virgin atau sebagai whore. Ada satu wanita yang ia inginkan (diperankan dengan bagus oleh Cathy Moriarty), hanya karena ia ingin memuaskan keinginan or fantasi seksual-nya saja (dont worry there is no too-vulgar scenes here), dan ketika ia sudah mendapatkannya, ia berubah menjadi sangat posesif dengan wanita itu, sampai-sampai ia jadi percaya, kalau cewenya ini, kalau sempat akan berselingkuh dengan setiap pria yang ditemuinya (termasuk adiknya sendiri). Robert DeNiro benar-benar luar biasa, kita tahu dia bermasalah tanpa ia harus memberitahukannya secara literal. Wajar kalau dia lantas mendapat Oscar pertamanya untuk aktor utama terbaik.

Ketidakmampuannya, lebih tepat, keposesifannya terhadap sang istri (yang sebetulnya mencintai Jake sepenuh hati) -- mirip dengan ketidak mampuan Travis Bickle dalam memperlakukan wanita di Taxi Driver, juga diperankan oleh Robert DeNiro -- diterjemahkan oleh Jake di atas ring. Dalam satu adegan yang brutal, digambarkan Jake menghancurkan wajah seorang petinju muda hanya karena si istri berkomentar secara kasual bahwa si petinju muda sebagai 'pretty boy' ketika Jake dan adiknya membahas kemungkinan bertarung dengan si petinju tersebut. Begitu seterusnya, sampai kemudian lingkaran setannya komplit. Jake selalu dalam keadaan cemburu, dan selalu ia melampiaskannya di atas ring, hingga suatu ketika, ketika ia tidak mampu lagi melampiaskan kecemburuannya, ia perlahan-lahan menghancurkan karirnya, keluarganya, dan tentu saja dirinya sendiri.

Depresi
Entah kenapa Martin Scorcese dirampok di tahun 1980 ketika Oscar memberikan penghargaan film terbaik dan sutradara terbaik kepada orang lain selain dirinya. Well, Martin Scorcese memang sudah terkenal sebagai salah satu sutradara terbaik yang belum pernah menang Oscar. Terakhir tentu saja tahun lalu, ketika semua orang menjagokannya untuk menang Oscar lewat The Aviator, bahkan ketika ia sudah menang di acara Golden Globe, Clint Eastwood datang. Tidak beruntung memang, tapi di tahun 1980, gw rasa sedikit yang bisa mencapai apa yang telah dicapai film ini dan Martin sendiri tentunya, gayanya mengeksekusi sinema, menerjemahkan depresifitas Jake LaMotta sehingga kita tidak hanya menjadi penonton tapi (tergantung penontonnya juga sih) juga lantas tertarik ke alam kelamnya Jake LaMotta. I dont know, it was just not fair. In short word, i really-really love this movie. Soundtracknya juga ndukung banget, ketika opening title berjalan, kita sudah tahu apa yang bakal disuguhkan film ini, dari situ, entah kita menerima atau tidak, Jake LaMotta bakal terus menyajikan depresi di layar, sampai akhir. Adegan terakhirnya juga mantap, khas Martin banget. This was a man, once was a great fighter, trying to relive his past, silently but compassionately clinging to one and only good memory he had of the past, desperately though knowing that it was a futility in a whole to redeem his past mistakes, chasing his own shadow, and tried to move on with whatever he had left. Dan semuanya ditunjukkan bukan diceritakan, jadi persepsi orang beda-beda, beautiful, simply beautiful.

Adegan favorit gw: Waktu pertandingan ke-5 dengan Sugar Ray Robinson, entah kenapa Jake LaMotta di ronde terakhir hanya berdiri di sisi ring menerima pukulan bertubi-tubi dari Robinson, darah muncrat ke mana-mana, istrinya menutup muka, penonton bersorak riuh-rendah, musiknya mendayu, slow-motion yang menyedihkan, adegan yang menyayat hati, sedih banget ngeliatnya. Tapi, kemudian ketika ia diputuskan kalah TKO, Jake LaMotta dengan 'pride' yang aneh mendatangi Sugar Ray, "I'm still standing Ray, You CANT get me down Ray, see that? I'm still standing Ray", gila! adegan yang menunjukkan carut-marutnya harga diri seorang Jake. Luar biasa!. Bukan adegan yang uplifting apalagi membahagiakan, tapi kena banget buat gw. Mantap!.

In the Mood for Love

Judul artikel ini diambil tentu saja dari sebuah film. It was a beautiful film, starring Maggie Cheung, Tony Leung and directed by Wong Kar Wai, dan lebih susah dicerna daripada "2046". Ada yang bilang, dan mungkin benar, bahwa film ini prekuel dari "2046" meskipun keduanya bisa dinikmati terpisah sebagai satu entiti sendiri.

Okay, i've been hooked up with works lately, trying something new, alas, i dont have much time for movies.. tapi gw justru menghabiskan Alias season-2, dan season-3. Dan terus terang, seiring dengan bertambahnya episode yang gw tonton, semakin berkurang pula afeksi gw terhadap serial ini dan akhirnya sampai di sebuah titik di mana gw merasa bahwa Alias itu sampah! Gw menghabiskan film ini hanya sebagai kewajiban aja. Satu kesimpulan gw: kalo bener CIA itu seperti yang digambarkan seperti di Alias, berarti mereka2 itu adalah orang-orang bodoh yang mungkin hanya lulus SD untuk menangani lembaga intelijen sepenting CIA. I know it just a movie, but heck! ada yang namanya batasan logika yang mesti dijaga agar hiburan itu bisa dinikmati dengan cerdas. Dan Alias? tidak punya batasan itu.

Now, i'm trying to assemble my mood by watching movie again. Lewat film-film ringan yang rame kaya Seoul Raiders, Be Cool sampai kemudian gradually memberi stimuli lewat film-film berat macam Ran, Raging Bull dan semacamnya. Hence the title, In The Mood for Love of Movies!.

So henceforth, gw akan mencoba mengupdate halaman ini sesering mungkin.

PS: Gw masih ragu apakah malam ini bakal pergi midnight "Batman Begins" atau tidak. Pengen banget sih, tapi tidak ada yang bisa diajak.

Wednesday, June 08, 2005

A Finally Released Note

Alas, the gravity had finally taken the best of me. Last week, when i took an evening stroll with my motor at a mere 40 miles an hour, somehow, the road beneath my wheels become slippery and so without any further ado, i (with my motor) swirled right and give up to the power of nature. I fell. Not particularly a hard fall, but pretty shocking indeed. The incident was left me with only a scrap on my right elbow which i used to guard my fall. But, the motor had fall on my right ankle and prohibited me from any activities that involves walking for two days. I had been afraid that somehow i broke it, but thankfully it had no broken or even shattered things beneath it. But alas, even though i'm able to walk almost like the way i walk before, i would still declined if somebody had asked me for a race. Yeah, i cannot (yet) run.

When i say the fall wasn't a hard fall at all, it actually could be fatal hadn't i used the protective gear. At the time, i wore a jacket, a jeans, shoes, gloves, full-helmet which practically left no skin exposed. Therefore i managed to left with only a scrap on my right elbow and no other external wound (the right ankle hadn't been an external wound), hadn't i used the gloves for instance, i would surely scrapped my palm as well. But the ultimate protection was my helmet. When i had bought the helmet, actually i would opt for a more standard helm, with no chin protection. But, since the store that sell the helmet doesn't have that kind of helmet, i bought a full-helmet which costy and un-practical to me (since i wore glasses, it was always a nuseance process to wore and un-wore the helmet), which proved useful.

During the fall, i could felt that i fall hard on my chin. And like i had said before, hadn't for the helmet, i would give a powerful blow to my bare-chin and i dont know, struck me unconscius (that was sure to happen), clapping my jaw so hard, that i accidentally bit my own tongue, convulsed in it, and died, either because the convulsion or haemorrheage, well the probabilities were limitless and all of them were surely worse than just a scrap on right elbow and unable to walk for two days.

Unlike its owner, the motor suffers nothing, except for some scars inevitable due to the collision with the asphalt.

I could ride a bike again now, but somehow, unconsciussly, i've never passed speed of 50 miles an hour. And my ankle still hurts when doing sujud or duduk-di-antara-dua-sujud or tasyahud.

"Untitled" or The Shining vs The Shining or How I Percieved American Culture

"The Shining" (1980) adalah film yang gw kasih penghargaan bergengsi sebagai "satu-satunya film horor Hollywood yang benar-benar menakutkan". Perhatikan gw menggunakan kata satu-satunya berarti sampai sekarang tidak ada film yang mendekati ke-horor-an film tersebut. Penghargaan gw kepada Stanley Kubrick.

Film "The Shining" sendiri, seperti laiknya film Kubrick lainnya, diadaptasi dari karya literatur. Dan karya siapa lagi yang diadaptasi selain karya penulis cerita horor paling populer (gw tidak memakai kata 'terbaik') di Amrik, Stephen King. Dan waktu itu, gw secara mudah berpikir bahwa Kubrick bisa dengan baik menterjemahkan horor-isme King ke layar, karena memang materi yang cukup bagus dan kapabilitas Kubrick sebagai sutradara (jarang lho, tulisan Stephen King bisa diadaptasi dengan baik). Tapi ternyata, ketika gw menulis review tentang "The Shining" (sambil mengumpulkan materi), gw baru tahu kalau S.King sendiri tidak menyukai film ini dan kemudian membuat satu judul miniseri yang diberi embel-embel "Stephen King's The Shining" untuk membedakannya dengan film-nya Kubrick. Saat itu gw penasaran, emang seperti apa sih karya aslinya? gw tidak tertarik untuk mencari miniserinya karena review yang jelek dari http://www.houseofhorrors.com/, website yang lumayan ngerti soal film horor.

Akhirnya baru bulan lalu gw berkesemapatan untuk membeli bukunya (along with "Carrie" and "Salem's Lot") dan membacanya (i'm on a mission: melengkapi koleksi Stephen King).

Perbedaan-perbedaan yang gw temui di buku dan film, as apparent as many of adapted movies, ternyata memang lumayan jauh. Tapi di luar kebiasaan, gw tidak merasa perbedaan2 itu menjadikan satu pihak kalah dan pihak yang lain lebih bagus, beda ketika gw mencaci film "Dreamcatcher" yang tidak bisa gw lepas dari entitas bukunya. Di kasus "The Shining", gw menganggap buku dan film sebagai entitas yang beda, lepas satu sama lain. Bahkan, "The Shining" adalah kasus pertama di mana ketika gw membaca bukunya setelah menonton filmnya, gw tidak mencampuradukkan karakter dari film ke dalam buku. Sederhananya, kalau di film, kita bisa lihat Jack Nicholson grinning malicously lewat Jack Torrance, atau Shely Duvall yang ... mmm, 'timid' sebagai Wendy, tapi ketika baca bukunya, imej Jack Nicholson benar-benar ilang, dan gw tidak bisa mengasosiasikan Jack Torrance dengan Jack Nicholson walaupun gw mencoba. Sebagai perbandingan, ketika gw baca The Lord of the Rings, ketika nama Gandalf disebut di buku, gw bisa dengan mudah menempel Ian McKellen di imajinasi gw. Dan itu yang membuat gw menyukai Kubrick lebih lagi, dan terutama membuat gw makin antusias membaca buku2nya Stephen King.

Sampai saat ini, gw berturut-turut baca bukunya Stephen King, mulai dari "The Stand", kisah epik yang coba gw sadur dan gw paksa sebagai inspirasi gw, dan untungnya, untungnya gagal, "Carrie", kisah gadis telekinesis yang membalas dendam (di latar belakang gw mendengar sorak-sorai pembaca yang menginginkan Carrie White untuk membalas dendam! Bunuh! Bunuh!) dan kemudian diadaptasi jadi film yang terkenal karena figur Carrie White di prom-night dengan tubuh berlumuran darah dari ujung rambut sampai ujung kaki, "'Salem's Lot", impersonasi Stephen King terhadap cerita Dracula (Bram Stoker) yang alih-alih bertempat di Transylvania, bertempat di 'Salem's Lot (kota kecil di Amrik), "Rage", kisah menarik tentang seorang anak remaja yang suatu hari, tiba-tiba memutuskan menembak mati dua gurunya dan menyandera empat puluh teman sekelasnya (recommended), "The Shining", dan sekarang "Pet Sematary". Sebelumnya gw udah membaca beberapa buku Stephen King, yang tentu saja kesemuanya bergenre horor. Tapi, yang sebenarnya menarik adalah karena unsur populer-nya. Dengan banyak-banyak membaca buku populer macam gini, gw (dengan berat hati) bisa menyatakan bahwa selain Indonesia, negara lain yang gw paham betul geografis-nya adalah Amerika. Gw sekarang tau letak kota-kota di Amerika, bukan cuma kota-kota besar macam New York, San Fransisco, Washington, atau Miami yang semua orang juga tau, tapi kota-kota level 2 (kota yang ga bisa dibilang kecil tapi masih kalah di departemen keterkenalan seperti kota-kota yg gw sebut sebelumnya) yang sering dijadikan set dari novel-novel populer macam gini. Kaya Maine, Boston, Portland, Seattle, Utah, Colorado, dan seterusnya.

Akhir-akhir ini gw kemudian berpikir, tidak ada negara lain yang geografisnya begitu nyata selain Indonesia dan Amerika. Indonesia? wajar, negara tempat gw lahir dan besar, dan ketika masih sekolah juga sering dicekoki dengan ilmu-ilmu bumi yang menunjukkan nama-nama daerah, tambang, budaya, dan seterusnya dalam sebuah mata pelajaran yang bernama "Geografi". Tapi Amerika? tidak pernah gw kesana, tidak pernah pula gw berkorespondensi dengan orang sana. Hal-hal yg gw tau tentang Amerika datang dari buku, film, dan internet. Dan tampaknya itu cukup. Gw sering menganggap remeh orang-orang yang berusaha mengikuti budaya barat (baca: U.S. of A.) sekena perutnya dan kemudian diekspos melalui acara-acara tv tengah malam berating "D" dan memiliki judul yang terkesan konotatif. Tapi kenyataannya dalam banyak hal, gw juga secara tidak sadar terjajah juga. Paling nggak dari media-media yang gw cerna, gw bisa seperti yg gw sebut tadi, pengetahuan geografi Amerika gw cukup intens, termasuk lokasi-lokasi penting macam Pentagon, Capitol Hill, Sungai Potomac, dan seterusnya yang sering dipakai di Tom Clancy. Apakah gw bisa disebut pengikut budaya barat? nggak tau juga. Yah paling ndak, yg gw baca kebanyakan cerita horor, dramatis, dan ambisius yang agak-agak sulit untuk diwujudkan di dunia nyata, bukan cerita-cerita provokatif yg membuat gw lantas memandang semua hal jadi berbeda dan sekenanya. But who knows what i do next? sekarang paling nggak gw lagi demen horor.

Well, that said, Sekarang gw lagi riset kecil mengenai serial-killer, cuman kok yang ceritanya ekstensif itu yang dari luar negeri (again, U.S. of A.) ya? tidak adakah serial-killer yang punya kadar psikopatisme cukup di negeri ini? padahal kalo kita liat sinetron2 (menurut gw, cara paling mudah menilai budaya suatu negara adalah dari tayangan-tayangan hiburan dari negara ybs, which sadly, put Indonesia's culture down the gutter), banyak banget kandidat-kandidat buat psikopat. Serial-killer, a man smart enough, a man cruel enough, dan cukup punya prinsip untuk menjustifikasi tindakannya.

On Campaign: No TV from 6 pm to 12.30 am. That is, if you still concerned about your family's (especially the young ones) mentality. Get your kids to watch a film, belajar ngaji, atau dongengin.