Tuesday, June 22, 2004

The Day After Tomorrow (2004)

Oh yes, it's good to be back at the theater. Semenjak kekasih saya pergi merantau, saya jarang menyambangi bioskop lagi (padahal dulu seminggu bisa dua film). Tapi kebetulan kemaren ada kesempatan jadi saya sempatkan untuk nonton The Day After Tomorrow.

Starring: Dennis Quaid, Jake Gyllenhall, Emmy Rossum, Ian Holm
Directed By: Roland Emmerich

Sebelum menyentuh ke bagian inti review, inevitably saya membandingkan The Day After Tomorrow (TDAT) dengan film Emmerich yang sebelumnya, Indepence Day (ID4). Keduanya adalah film bertema bencana. Keduanya menyajikan efek dahsyat sebagai menu utama. Keduanya film summer. Dan jangan lupa, jutaan orang mati di kedua film tersebut, tapi karakter2 utama-nya, meskipun menempuh resiko yang luar biasa (Jeff Goldbulm n Will Smith bertempur mati-matian menghadapi alien bahkan sampai ke mainframe kapal induknya di ID4 dan Dennis Quaid sebagai satu-satunya orang yang pergi ke utara demi sang anak) datang kembali dan tersenyum bahagia di akhir film.

Okay, here's the hard part. Film ini hanya efek. Datang dan nikmati efek film ini saja yang menurut saya memang luar biasa. Wajar dengan budget $125mills. Lupakan pula apa yang saya tulis di sini, karena memang ini hanyalah film special-efek khas summer dan review ini hanya perspektif seorang Rhama yang acap kali mengesampingkan keajaiban efek dari sebuah film.

Kenapa saya tidak terlalu suka? masa saya dalam menikmati film hanya lewat mata telah berakhir. Dan di sini saya daftarkan beberapa hal yang membuat saya tidak terlalu respek sama film macam ini:
1) Hero / Pahlawan yang sepertinya adalah satu-satunya orang yang tahu kenapa bencana ini bisa terjadi. Saya mengutip dari salah satu adegan yang menurut saya benar-benar gak penting dari TDAT ini. Ketika profesor Hall (Quaid) -- the hero -- menyatakan dengan gesture 'apa-ku-bilang-bandel-sih' bahwa ini adalah awal dari semua kejadian ini. Maka sejumlah ilmuwan hanya membeo "That would explains the whole disaster". Ah, hey, kalian seharusnya ilmuwan dengan gelar berderet-deret, tidak perlu-lah memberi justifikasi anak TK macam itu.
2) Arogansi, ignorance. Selalu ada karakter yang ngeyel ga mau menerima alasan sang pahlawan. Karakter ngeyel ini diwakili oleh sang wakil presiden yang tidak mau menerima saran evakuasi masal.
3) Pemimpin yang super-bodoh. Di TDAT ada satu adegan yang super konyol ketika sang Presiden setelah menerima penjelasan panjang lebar dari pahlawan kita hanya bisa memandang kosong ke arah wapres-nya sambil bertanya "What should we do?".
4) A young couple in love. Resep utama dalam film bencana adalah karakter yang penonton puja dan tidak ingin atau tidak rela mereka mati dalam bencana. Karakter2 ini diwakili oleh Sam (Gyllenhall) dan Laura (Rossum. Surprisingly cute, padahal di Mystic River ga terlalu terlihat).
5) Rapat yang tak perlu. Adegan rapat yang terlihat sudah berlarut-larut (diindikasikan dengan banyaknya kopi, muka kusut, kertas bertebaran di atas meja) dan hanya menghasilkan kalimat standar film-film sci-fi sejak tahun 50-an "If we dont act now, it will be too late!". Ngomong2 sudah berapa kali pahlawan kita berteriak-teriak bahwa umat manusia sudah tidak punya waktu lagi?.
6) Beberapa kejanggalan tapi simply ignored karena spesial-efek dan emosi dari penonton sendiri:
6a) Ngapain pahlawan kita jalan ke New York sementara setiap orang mengungsi ke selatan? dan ini jawabannya, as cheesy as this movie would be karena dia merasa bersalah karena gak-pernah-ada-untuk-si-anak dan janji yang ia buat yang ironisnya, jarang ia tepati ketika bencana sedang terjadi.
6b) Berapa lama kita jalan (pakai kaki) dari Washington D.C ke New York ditengah badai salju yang membuat perjalanan jadi serasa naik gunung Himalaya? kalau saya hitung menurut film ini, cuma butuh waktu 2 hari 3 malam. Mau dicoba?.

Emmerich memang masternya buat film-film bencana macam gini. Dia mengacaukan New York di "The Godzilla", White House di-ratakan oleh piring terbang di ID4, dan di film ini he pushes it all to the limit. L.A diratakan dengan Tornado, New York dibekukan, Tokyo dihujani es sebesar wadah es krim Wall's 800ml, Eropa Utara ditimbun salju setinggi 15 kaki.

Buat yang suka film bencana, this film is a must see. Efek-nya luar biasa, saya pribadi sempat takut ketika Pahlawan kita masuk ke dalam Eye of the Hurricane yang bernuansa tenang tapi sekaligus agung dan mematikan. Dan ketika sudah di rumah, saya baca-baca mengenai Eye of the Hurricane, penggambaran Emmerich ternyata memang mendekati aktual.

The Statue of Liberty frozen over in 20th Century Fox's The Day After Tomorrow


Rating: **1/2/**** - Sekali lagi, jangan terlalu mikir rating yang saya berikan. Saya menilai berdasarkan plot dan karakterisasi pemainnya. Bintang yang saya berikan, terutama karena efek film ini yang luar biasa. Buat pencinta film efek, film bencana, dan Roland Emmerich, this film is still a must see.