Tuesday, June 08, 2004

Secretary (2002)

Starring: James Spader, Maggie Gyllenhaal
Directed By: Steven Shainberg

"A sexy comedy".

Bukan, tagline di atas bukan dari saya, dan bukan pula bagaimana saya melihat film ini. Tagline tersebut saya kutip dari salah satu reviewer media Hollywood yang langsung saya comot tanpa embel-embel copyright dari boks DVD-nya. Tujuan saya hanya untuk menunjukkan what to expect in the 100 minutes length movie ini.

Movie Image

Gambar di atas adalah salah satu adegan di film ini. Terlihat nakal yah? atau kalo saya boleh bermain kata-kata: "looks kinky and winky". Terlepas dari banyaknya indikasi mengenai keseksian film ini, sebenarnya saya bisa mengatakan kalau film ini masih berada di sekitar sisi wajar keseksian sebuah film Hollywood yang biasa. Jadi buat yang expect Maggie Gyllenhaal untuk tampil full frontal habis-habisan, hanya akan disuguhi 4-5 menit full frontal dari Maggie yang sangat wajar dan tidak terkesan atau menjerumuskan film ini ke genre softcore B-film.

Tidak, film ini saya masukkan ke kategori komedi romantis. Hanya mungkin definisi komedi di sini adalah black-comedy yang penuh dengan ironi.

Lee Halloway (Gyllenhaal) led a miserable life as she had to spent some of her years in mental institution. Lee memiliki tendensi sebagai seorang marchochist. Sehingga ketika sesuatu tidak mengenakkan hatinya, maka ia akan cenderung melukai dirinya sendiri.

Keluar dari institusi mental, Lee kemudian bekerja sebagai seorang sekretaris untuk E. Edward Grey (Spader) seorang pengacara yang bisa saya katakan pemalu, introvert, dan rada-rada freak.

Hubungan antara Lee dan Edward yang semula murni profesional (bahkan kantor mereka dipisahkan oleh sebuah koridor dan dua buah pintu) kemudian timbul dan berkembang menjadi sebuah 'kebutuhan' yang aneh. Yang menarik dari film ini adalah tidak eksplisitnya hubungan romantisme mereka dan hanya didasarkan oleh saling membutuhkan dalam term yang benar-benar aneh, dan nyaris tabu (paling tidak buat kita di sini). 'Kebutuhan' ini muncul ketika Edward merasa heran dengan betis Lee yang penuh bandages dan kemudian berlanjut ke 'hukuman' yang diberikan Edward kepada Lee untuk setiap kesalahan eja yang ia buat ketika mengetik surat-suratnya.

Hubungan yang aneh ini bukan tanpa gejolak. Ketika Lee membutuhkan Edward lebih dari yang seharusnya, dan Edward mulai merasa bahwa ini adalah salah dan mulai menjauhi Lee bahkan memecat Lee dari sini lah, determinasi Lee untuk memperoleh apa yang jiwanya (yang seperti sudah saya singgung, agak sakit) butuhkan yang menumbuhkan sedikit romantisme yang benar-benar wierd dari sebuah komedi yang hitam ini.

Ide cerita yang orisinal, penampilan menawan dan meyakinkan James Spader, dan keseksian (even if you exclude her nudeness, you could still enquire the sexy expression out of her) Maggie Gyllenhaal, membuat cerita yang benar-benar sederhana ini cukup mengejutkan. Saya sendiri, yang bukan fans dari genre macam ini hanya mengapresiasi orisinalitas film ini. Konyol memang, tapi orisinil.

Rating: *1/2 / **** - Cerita yang orisinil membuat saya merasa perlu mengapresiasi film ini lebih dari yang seharusnya. Meski begitu, this movie was not one of those pleasant voyage let alone a rewarding experience.